Search This Blog

Saturday, January 8, 2011

Mengemudi Sendiri dari Denpasar ke Surabaya

Teman saya, Satya Hody berencana 'hijrah' dari Denpasar ke Surabaya dengan mengemudikan sendiri mobilnya.
Nah, bagi anda yang punya keinginan yang sama, jangan kuatir untuk melakukannya, perjalanan Dps - Sby tidak semenakutkan dan menjemukan yang dibayangkan, banyak tempat singgah dan tempat makan yang menarik sepanjang perjalanan untuk disinggahi.

Simak uraian dibawah ini

Total waktu perjalanan anda termasuk waktu di atas kapal ferry kira-kira 9 - 11 jam. Tentu saja semua relatif, tergantung pada ketahanan mengemudi, kecepatan kendaraan, sering tidaknya berhenti untuk makan, buang air kecil, isi bensin dll.
Rekor 9 jam saya dapatkan dengan non stop tanpa singgah makan/isi bensin/buang air kecil, mengemudi malam (sampai di Surabaya dini hari) dan ketika berada di penyeberangan langsung masuk kapal, kapal langsung berangkat dan mendapat tempat terdepan ketika keluar fery.
Karena perbedaan zona waktu antara DPS dan SBY, total waktu di jalan seolah-olah menjadi hanya 8 jam saja.


Dan berikut adalah rute yang bisa anda tempuh dari DPS ke SBY.

Dari Denpasar, anda harus pergi ke arah terminal Ubung di utara kota.
Bila anda berada di daerah Kuta anda bisa mengambil jalan Imam Bonjol yang panjang sekali ke arah jalan Cokroaminoto terus ke utara. Atau anda juga bisa ambil short cut tanpa harus lewat kota DPS, yaitu lewat Legian-Seminyak-Kerobokan langsung tembus sebelum Tabanan.
Jika anda mengambil jalan Imam Bonjol lewat tengah kota, anda perlu waspada akan jalan searah di dalam kota denpasar.
Jika anda lewat Kerobokan anda perlu waspada karena banyaknya persimpangan dan jalan yang cenderung tidak lebar dan mulus, banyak rumah penduduk dan kendaraan yang membuat anda tidak bisa mengemudi dengan cepat.
Satu lagi alternatif yang mudah namun agak memutar adalah lewat jalan By Pass Ngurah Rai. Dari Kuta ke 'Simpang Siur' di Matahari Galeria terus saja ke arah Sanur dan ketika tiba di persimpangan ke Padang Bai, lurus saja dan belok kiri ke arah Gatsu (Gatot Subroto).
Anda berada di Gatsu Timur, lurus saja ke Gatsu Barat, lewat beberapa perempatan besar.
Setelah itu baru belok kanan di Cokro ke arah terminal Ubung (Ada patung salah satu Pahlawan nasional di perempatan tersebut, dia bawa pistol pokoknya hahahaha...).
Jalur ini relatif lebih mudah karena banyak tanda 'Surabaya' sepanjang jalan dan merupakan jalan utama yang lebar.

Dari Ubung, anda tinggal mengikuti jalan besar saja, banyak penunjuk arah yang menunjukkan arah 'Gilimanuk' atau 'Surabaya'.
Kota kota yang akan anda lalui : Mengwi, Tabanan, Negara dan Gilimanuk.
Jika anda lewat Kerobokan, anda akan bergabung di jalan utama di antara Mengwi dan Tabanan, langsung belok saja ke kiri ke arah Tabanan - Gilimanuk.
Di daerah Tabanan banyak tempat makan Babi Guling yang tersebar di pinggir jalan, mulai dari yang berkelas warung hingga yang besar mirip restaurat.

Lepas dari Tabanan, di jalan antara Tabanan - Negara, anda akan melewati jalan pegunungan, berkelok-kelok, sempit dan rawan macet. Kalau ada beberapa kendaraan besar yang kesulitan menanjak, dijamin lalu lintas akan tersendat. Hati-hati sepanjang jalur ini anda akan menjumpai banyak persimpangan ke Singaraja. Perlambat laju kendaraan untuk melihat penunjuk arah di setiap persimpangan.
Masih di jalan antara Tabanan-Negara, setelah lepas dari jalan pegunungan, anda akan melaju di sepanjang pantai selatan Bali. Sebelah kiri banyak pohon kelapa, pantai... anda bisa mendengarkan suara ombak...
Jarang ada rumah makan di sepanjang jalan antara Tabanan-Negara. Tempat makan yang menurut saya layak disinggahi sekaligus jadi tempat istirahat adalah di Tabanan atau Gilimanuk.
Pom Bensin banyak tersebar di sepanjang jalan antara DPS dan SBY, tidak perlu kuatir akan hal ini kecuali anda memakai Pertamax (update Des 2013, sudah banyak pom bensin pertamax !).

Setelah Desa - dan sekaligus pantai - Candi Kesuma, anda akan bertemu dengan persimpangan ke utara (kanan) ke arah Gereja Palasari (klik untuk info lebih detail).
Ada petunjuk arah yang cukup besar namun agak sulit terlihat kalau malam hari karena tidak ada penerangan di sepanjang jalan.

15 km setelah persimpangan ke Goa Maria Palasari ini anda akan mulai memasuki kawasan Gilimanuk. Dimulai dengan pertigaan besar ke utara (kanan) ke arah Taman Wisata Nasional Bali Barat (Menjangan, Pemuteran, Singaraja). Lurus saja dan anda segera akan melewati sebuah gapura besar.
Anda tahu sekarang sudah berada di daerah penyeberangan fery Gilimanuk-Ketapang.

Nah, jika anda datang antara jam 9 WITA dan 20 WITA anda bisa mampir ke salah satu warung Ayam Betutu yang di Gilimanuk ini. Ada banyak ayam betutu disepanjang jalan di sebelah kiri anda.
Kalau anda favorit dengan ayam betutu 'terkenal' seperti Bu Lina (1dan 2), Men Tempeh dst, anda harus belok ke (kanan) di depan pasar Gilimanuk (disitu ada terminal kecil, parkir mobil juga luas) dan mencari rumah makan ayam betutu di sekitar sini. Jika tidak terlalu sore ada beberapa warung Babi Guling dan warung makan lainnya (Muslim) disini. Anda bisa beristirahat, makan, buang air kecil sebelum menyeberang.

Masuk ke penyeberangan Gilimanuk, siapkan SIM, STNK dan uang Rp. 94.000 per mobil untuk bisa masuk ke ferry. (Update Feb 2013 - harga ticket naik menjadi Rp. 114.000 per mobil, update Des 2013, setelah kenaikan bbm di pertengahan 2013, harga ticket naik menjadi Rp. 124.000 per mobil, hati hati petugas sering gak ngasih kembalian Rp. 1000 nya ! hahahahaha...)
Jangan pernah lupa membawa semua kartu identitas anda, pastikan SIM masih valid atau anda bakal menemui masalah di penyeberangan.
Dengan biaya sekian itu anda bisa membawa penumpang sebanyak yang anda mau di mobil anda karena biaya dihitung per mobil / kendaraan bukan per kepala :).
Lama perjalanan DPS - Gilimanuk sekitar 3-3.5 jam jika anda mengemudi non stop dan tanpa kemacetan sepanjang perjalanan. Jika anda berangkat pada pagi - sore hari waktu tempuh akan lebih lama dibanding jika anda berangkat malam hari.

Load di pelabuhan Gilimanuk ataupun Ketapang tidak pernah bermasalah dalam 2 tahun terakhir ini. Saya tidak pernah punya masalah menunggu terlalu lama. Paling lama hanya 30 menit saja.
Jika anda beruntung anda bisa langsung masuk di last row dan kapal akan langsung berangkat.
Total waktu di laut hanya sekitar 45 - 60 menit saja. total 1 - 1.5 jam dari mulai masuk ke kapal hingga keluar dari kapal.

Tiba di Ketapang, siapkan uang 1.000 rupiah, kadang ada karcis pungutan dari pemda Banyuwangi.
Lepas dari penarikan karcis, belok kanan dan anda sudah ada di jalan raya Ketapang - Surabaya... just follow the road... :). All the way to the West you are now....

Tidak jauh dari pelabuhan anda bisa bertemu dengan pom bensin (jika ingin buang air kecil), convenience store seperti Alfamart dan Indomart. Jika ingin makan, sebaiknya menunggu hingga tiba di Situbondo.
Hati-hati sebab jalan antara Ketapang hingga Situbondo bisa dikatakan cukup sepi, tidak ada restaurant yang cukup besar.
30 menit lepas dari ketapang anda sudah akan masuk kawasan Bajulmati, hutan jati sepanjang kira-kira 30 - 50 km. Situasi jalan gelap, tidak ada lampu jalan, tidak ada rumah penduduk karena lokasi ini ada di dalam  Taman Nasional Baluran. Tepatnya jalan raya ke arah Situbondo ini membelah TN Baluran.
Pastikan anda punya cukup bensin untuk berjalan sejauh 50km.
Lepas dari Bajulmati anda akan bertemu kota kecil pertama, Asembagus.
Pom Bensin, Restaurant kecil, convenience store, toko-toko, ATM BCA dapat anda temukan disini. Kesibukan disini hanya sampai kira-kira jam 20.00 WIB selebihnya tidak banyak toko dan warung yang buka.

Setelah Asembagus adalah Situbondo. Kira-kira butuh 1.5 hingga 2 jam dari Ketapang untuk mencapai Situbondo. Disini banyak restaurant yang cukup terkenal. Chineese Food : Restaurant 'Malang' di kanan jalan setelah jembatan besar. Just slow down when you fill the 'city traffic' and you'll find it....
Restaurant Srikandi, juga chineese food yang rasa masakannya tidak kalah dengan Restaurant Malang tapi harga lebih bersahabat.

(Update note : sekitar Juni 2011 sampai akhir Dec 2011, saya lihat restoran Malang ini selalu tutup, tidak bisa dikunjungi... tidak ada keterangan, entah tutup, pindah lokasi dll).

Lepas dari Situbondo, 0.5 hingga 1 jam mengemudi, anda akan sampai di daerah wisata Pantai Pasir Putih.
Total waktu tempuh dari Ketapang sekitar 2.5 hingga 3.5 jam jika anda mengemudi siang hari.

Mulai dari Pasir Putih, anda akan banyak bertemu kota kecil maupun kota besar. Tidak usah kuatir dengan rumah makan, pom bensin dll. Semuanya ada dalam jarak yang berdekatan.
Tepat di seberang hotel Sidomuncul anda bisa makan ikan bakar dengan harga yang relatif murah dan sambal yang menurut saya : ueeenaaakk tenan....
Ikan-ikannya pun segar. Pemilik warung sekaligus merangkap pembakar ikannya adalah seorang kapten kapal yang dulu sering berpetualan mengikuti orang Diving atau memancing. Cak Sapari namanya.

Kalau kuatir menunggu lama anda bisa pesan ikan dulu untuk dibakar : +6281-351-731891.
Ikannya dijamin segar dan besar... sambelnya mak nyuss... dan lalapannya seger banget, ada kangkung sungai yang tidak pernah saya jumpai di tempat lain.
(sst.... anaknya pak Sapari juga cuakep setengah mati lho... hahaha... masih SMP tapi sudah kelihatan kalau bakalan cakep hahahaha... lumayan jadi bahan pembicaraan para diver...)

Setelah pasir putih kota terdekat adalah kota kecil Besuki. Disini juga ada satu warung tempat diver singgah, suguhannya kali ini adalah Bakso !
Bakso halus dan kasar yang dimakan dengan lontong. Nama restaurantnya : Bakso Solo Larasati
Bersama divers dari pt. HESS,
makan di depan restaurant bakso Solo Larasati, Besuki.


Lokasinya saya gambarkan seperti ini.
Masuk kota Besuki dari Ketapang (timur) anda akan menemui belokan ke kiri. Nah setelah belokan ke kiri tersebut, tak berapa lama anda akan menemui pertigaan ke kanan dengan monumen kereta api di tengah-tengah pulau jalannya.
Disitulah restaurant Bakso Larasati ini buka. Di pertigaan monumen itu, jangan ambil belokan kekanan (ke Surabaya), lurus sedikit hanya 20 meter setelah monumen itu warung Bakso ada di sebelah kiri.
Lokasi ini sebenarnya sudah dekat sekali dengan Alun-alun kota besuki. So seharusnya lokasi ini tidak sulit dicari.
Kalau navigasi bawah air yang modelnya abstrak saja lulus, cari restaurant yang ada di pinggir jalan pasti jauh lebih enteng... hehehe....

Lepas dari Besuki segera anda memasuki kawasan Paiton, Pusat pembangkit listrik untuk Jawa dan Bali.
Paling indah jika dilewati di malam hari karena (mentang-mentang pabrik listrik...) semua lampu dinyalakan terang benderang.
Hati-hati dengan markah jalan, polisi disekitar sini galak-galak... jangan menyalip jika markah jalan tidak putus-putus.
So, kalau di depan anda ada truk, atau kendaraan gajah lain yang geraknya lambat, salip lah sebelum Paiton atau anda harus manyun nunggu dibelakang asap tebalnya sambil menikmati tanjakan Paiton :).

Lepas dari pembangkit listrik Paiton, anda akan sampai di kota Paiton itu sendiri, gak terlalu besar...
Tapi sekarang (Des 2013) udah banyak rumah makan, hotel, bahkan sudah ada lapangan futsal dan driving range nya !!
Paiton anda akan sampai di kota yang lumayan besar, Kraksaan, at least banyak pertokoan sepanjang jalan, Bank dll. Setelah Kraksaan ada kota kecil, Gending, yang menjadi terkenal karena pabrik gula dan lokasi Rafting sungai Pekalen (masih 15 km masuk dari jalan raya).
Lepas dari Gending, ada pantai wisata, Pantai Bentar yang menandakan anda sudah dekat ke Probolinggo.
Jarak Kraksaan - Probolinggo sekitar 30km.
Sampai di Probolinggo, hati-hati karena anda harus ambil jalan melingkar di kota ini (karena jalan lewat tengah kota hanya satu arah, dari Surabaya saja. Arah sebaliknya dari Ketapang ke Surabaya harus ambil jalan lingkar).
Ada pertigaan yang membuat anda harus belok ke kiri dan kemudian kembali lagi ke jalan utama.

Sepanjang jalan dari Probolinggo, Tongas, anda punya banyak sekali pilihan singgah untuk makan.
Mulai dari Restaurant Sumber Hidup di Probolinggo (terkenal, favorit kakek nenek, bapak ibu kita... es krimnya katanya enak banget... sop buntut juga yahud :)).
Dan restaurant-restaurant besar yang bertebaran sepanjang Probolinggo hingga Tongas. Ada ATM BCA, ada tempat parkir yang luas.
Kalau suka makan rawon silahkan coba Rawon Nguling.

(Update 2011, hingga desember 2011, jalan antara Probolinggo - Tongas ini langganan macet. Jalan hanya 2 line sehingga ada gangguan sedikit saja pasti macet. Banyak kendaraan berhenti dan keluar masuk restaurant ditambah angkutan berat yang jalannya pelan.

(Update 2013, jalan antara Probolinggo - Tongas masih kadang-kadang macet. Waspada dan siap2 saja kalau ada kecelakaan sebelum jembatan tongas, bisa jadi macetnya mengular... selalu siapkan GPS untuk cari jalan alternatif !).

Lepas dari Tongas anda akan sampai di Pasuruan.

(Update 2013) Jalan Raya mulai dari Tongas sampai dengan Bangil sekarang sudah diperlebar, sudah tidak 2 jalur lagi tapi bisa sampai 4 jalur, walaupun tidak merata, kadang 2, kadang 4 :D. Tapi sudah sangat lumayan lah, dahulu siksaan terberat mengemudi adalah di jalur Probolinggo - Pasuruan ini, sekarang sudah lebih mending, tinggal Probolinggo - Tongas saja yang kadang-kadang padat.

Di Pasuruan, lurus saja sampai perempatan dengan lampu merah, dan ambil jalan ke kanan (hati-hati tanda arah ke Surabaya nya kurang jelas), 200m kemudian langsung ke kiri di depan Gereja Katholik lewat jembatan dan lurus terus ke Surabaya.

Di sekitar Pasuruan anda bisa mampir di restaurant yang menyediakan makanan khusus berbahan dasar Tahu. Sangat amat variatif dan patut dicoba...
Lokasinya, lewat dari kota Pasuruan, lewat sedikit dari Carefour restaurant special tahu ini ada di kanan jalan.

Setelah Pasuruan anda akan melewati kota kecil Bangil, di kota ini, dekat dengan alun-alun anda bisa mencoba makan Kambing Oven di Restaurant Cairo. Harga memang agak mahal (Rp. 55.000 kalau gak salah), tapi rasanya Mak nyus pokoknya...
Kemudian jalan menjadi lebar dan terang benderang oleh penerangan jalan dan kemudian menyempit lagi menandakan anda sudah dekat dengan Bundaran Gempol, tempat (almarhum) pintu gerbang Tol Gempol-Surabaya.
Banyak toko-toko kecil di sepanjang jalan menuju bundaran tol ini, anda bisa membeli oleh-oleh seperti tape, kerupuk pasir, klepon dll).


Di bundaran Gempol, jika diumpamkan anda masuk dari Tenggara (kanan bawah), anda akan menjumpai sebuah bundaran dengan 4 arah.
Jika anda lurus ke Barat Daya (kiri bawah) itu adalah arah ke Malang (bisa juga ke Surabaya namun jalan ini lebih jauh).
Jika anda ambil arah Timur Laut (kanan atas) itu adalah pintu gerbang tol lama (yang sekarang sudah terendam lumpur Lapindo).
Nah jalan yang paling singkat untuk ke Surabaya adalah yang ada di arah Barat Laut (kiri atas).
Masuk ke sana, situasi bundaran Gempol memang gelap gulita dan agak sulit melihat rambu-rambu petunjuk arah namun simak penjelasan diatas dan berjalan perlahan untuk melihat rambu, seharusnya anda tidak akan tersesat.

(update 2011, exit barat laut (kiri atas) tersebut sekarang seringkali ditutup. Jika anda tiba di bundaran gempol saat jam sibuk, heavy traffic, lebih baik anda ambil exit barat daya (kiri bawah) yang ke arah malang, dan baru belok kanan di bundaran besar. Jam sibuk yang dimaksud misalnya adalah jam pulang kantor, hari jumat sore, hari minggu sore - malam).

Jika anda ambil jalan barat laut (kiri atas) anda akan bertemu dengan jalan utama Porong sebagai jalan poros Surabaya - Malang.
Setelah melewati sebuah overpass jalur kereta api. Siapkan uang receh, biasanya ada polisi cejing (cepek sudah tidak jaman lagi), atau istilah kerennya 'Supeltas', ada di ujung jalan yang membantu anda untuk belok kanan ke arah Surabaya.
Saya sih tidak pernah memberi uang, termasuk orang yang kurang berterima kasih akan kehadiran supeltas ini :p.

Segera anda sampai di jalan raya Porong ada di jalan yang sering kali menjadi macet terutama ketika pagi, sore dan weekend.
Jika lancar, 15 - 30 menit setelah jembatan Porong anda akan tiba di pintu tol Porong ke arah Surabaya.
Di sini, jika anda memilih untuk belok kiri, berarti anda memilih ke Surabaya lewat jalan tol.
Jika anda memilih untuk lurus, berarti anda memilih jalan biasa, yang sudah ada sejak sebelum jalan tol Gempol-Surabaya ini, yakni lewat Sidoarjo, dan masuk Surabaya lewat bundaran Waru.

Update 2013, di awal tahun, kelihatannya karena jalan utama porong sering dibuat lokasi unjuk rasa warga sekitar... maka dibuka satu jalan potong dari ujung tol Surabaya - Porong yang melingkari lokasi lumpur lapindo.... langsung tembus ke dekat bunderan gempol / pertigaan japanan.
Jalan baru ini cukup lebar dan mulus, kalau kita dari Surabaya, di ujung tol harus putar balik ke arah Surabaya dulu, baru belok kiri ke jalan baru ini.
Kalau kita dari Malang, setelah Japanan, kita 'dipaksa belok kiri' itulah jalan baru yang ujungnya ke jalan tol. Kalau kita ingin ke Surabaya tanpa lewat tol, harus putar balik dan kembali ke jalan utama Gempol - Porong.

Jalan Tol Porong-Surabaya juga berakhir di Bundaran Waru. Jarak dari Porong ke Bundaran Waru sekitar 20km saja.
Anda bisa keluar disini atau memilih meneruskan masuk ke tol dalam kota (Tol Waru-Perak).
Total jarak dari Porong ke Perak adalah 35km. (Km 0 adalah Bundaran Kodikal di Perak, Km 35 adalah pintu tol Porong).


Welcome to Surabaya :).


Semoga tulisan ini bermanfaat....




----------------------------

16 comments:

  1. wuihhh makasi banget waktu dan tenaga buat nulis artikel ini, semoga bermanfaat buat banyak orang :)

    ReplyDelete
  2. Sama-sama Sat...
    Amin... gua nulis ini (dan ingin terus perbaiki) supaya banyak yang terinspirasi... dan melengkapi...
    Sesama pencinta traveling hehehe....

    ReplyDelete
  3. Halo Rizal, bagus dan keren tulisannya. Saya rencana berNatal di Palasari,berangkat dari Jakarta melalui jalur darat.Bgmn update terakhir Surabaya-Ketapang?Apa selama ini lancar-lancar saja?18 tahun saya tidak lewat jalur ini lagi. Saya berencana traveling dgn mobil tua/ toyota hardtop land cruiser fj40, dengan istri dan bayi. Apa mungkin anda juga punya informasi jalur Semarang-Surabaya? Lalu bgmn dengan cuaca selat Bali di akhir tahun?Apa lautnya cenderung tenang? Bgmn dengan Palasari apa ada penginapan sekitar gereja? Trima kasih banyak sebelumnya

    ReplyDelete
  4. Halo bapak yang baik.

    Semarang - Surabaya, saya akan berhati hati dengan daerah sekitar Pati sampai Lamongan, selain jalan rusak, kadang macet dan menunggu mobil2 besar merambat, juga di pantai utara kalau musim hujan air sering turun dari gunung lewat jalan raya langsung ke laut. Agak mengerikan kalau sudah seperti ini.

    Saya akan usul bapak lewat jalur tengah, Semarang ke Salatiga - Gemolong - Sragen saja daripada Salatiga - Solo - Sragen, GPS Navitel bisa menunjukkan short cut dengan baik.

    Surabaya - Ketapang lancar lancar saja pak, kecuali barusan (awal Des 2013) antara Besuki - Situbondo ada pembuatan jembatan baru, agak merambat disana. Kalau hujan bisa agak macet tapi jangan kuatir, nyalakan GPS, ambil jalan memutar sedikit ke selatan sudah gak masalah.

    Penyeberangan lancar pak, selama 3 tahun saya rutin ke Bali lewat jalan darat, saya hanya mengalami penumpukan di Ketapang saat hari pertama setelah Nyepi, selebihnya tidak pernah ada penumpukan. Waktu menyeberang jam 9 malam sampai dini hari adalah yang paling enak karena biasanya lalu lintas sudah sepi, mengurangi resiko antrian panjang.

    Cuaca selat Bali, kalau akhir tahun sering Hujan, tapi hujan asal gak badai angin saja biasanya enteng saja, gak ada masalah. Masalah lebih banyak kalau full moon atau dead moon, karena puncak surut yang ekstrim bisa bisa membuat penyeberangan dihentikan beberapa jam, kapal gak bisa merapat. Sekali lagi, saya merasa tidak pernah ada masalah besar dengan penyeberangan Jawa ke Bali kecuali di hari pertama setelah Nyepi.

    Untuk mabuk laut, bapak bisa persiapan antimo dan tolak angin, manjur biasanya...
    Saya biasanya tidur di dalam mobil selama penyeberangan, lebih goyang kalau sudah di jalan raya dibanding di atas kapal :D.

    Penginapan di Palasari, bapak bisa coba telepon pastoran Gereja Palasari, biasanya akan diarahkan untuk menginap di rumah penduduk (homestay) atau menginap di pantai Candikesuma, dulu saya menginap disini, 20 menit saja dari Gereja Palasari.
    check link gereja palasari disini : http://rizalchristian.blogspot.com/2010/04/foto-gereja-palasari.html

    semoga membantu jika ingin bincang2 via email : a2dcrizal@gmail.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Rizal email saya di yahoo sulit dibuka. Saya sudah tiba di semarang. Betul2 perjuangan untuk tiba di sini..kemacetan panjang mulai di Cikarang karena ada perbaikan jalan kemudian sedikit tersendat di Jomin, seyerusnya lancar sampai Kanci. Masuk Brebes macet, jalan sedikit, maduk Tegal macet, demikian di Pemalang dan Petarukan sampai Pekalongan padat merayap. Saya padahal sudah booking hotel di semarang, mengingat si kecil sudah bosan di mobil, dan jam 19.30 baru sampai Pekalongan maka kita stop di situ. Hanguslah kamar di semarang. Apa boleh buat kesehatan yg utama apalagi kesehatan si kecil,tidak bisa dibeli dengan uang berapapun banyaknya. Anda bayangkan 14,5 jam Jkt-Pkl yg seharusnya hanya 8 jam.Kami berhenti mungkin hitunglah 2,5 jam untuk makan dll. Jadi potong berenti2 total 12 jam. Dengan wkt tempuh sprti itu seharusnya saya dari jkt sdh tiba di Solo atau kalau di pantura mungkin sekitar Rembang. Paginya saya kira sudah berakhir, ternyata kemacetan masih melanda di pekalongan.
      Bayangkan dari kemarin hampir sepanjang Brebes-Pekalongan padat merayap.

      Saya terpaksa ambil jalur alternatif..tembus2 sudah di Batang.
      Dari Batang lancar2 sampai masuk Semarang macet lagi sekitar 5km.

      Padahal keluar dari jkt krn mau santai. Pekalongan -Semarang hanya 100km harus ditempuh 4jam.

      Memang baeu sekarang saya lewat pantura biasanya saya pilih jalur selatan lewat Purwokerto. Tapi karena tujuan Palasari,Bali kami pilih utara.

      Bgmn Rizal, apa jalur Semarang Gemolong Sragen biasa lancar? Lalu lewat mana baiknya?Bojonegoro atau Jombang? Bgmn kalau ke Palasari lewat jalur Malang Dampit Lumajang Jember Banyuwangi?Apa ada hotel yg cukup baik sekitar Lumajang Jember?

      Trima kasih sebelumnya, nanti kalau email sudah betul, ngobrol lewat email.

      Delete
    2. Halo pak :),

      saya sangat support niat bapak nih, karena saya sendiri juga gemar jalan dengan mobil 'city hopping' sampai di tujuan, sambil menikmati kuliner, new place of interest sepanjang perjalanan.
      Otomatis GPS dan smartphone/BB jadi kebutuhan utama.
      Smartphone saya perlukan untuk searching jalan alternatif, lokasi makan yang unik, termasuk booking hotel via agoda :). Sering ada discount khusus di agoda...
      Hidup saya menjadi 'harian', kalau suka di lokasi tertentu saya bisa overstay yang penting jadwal keseluruhan gak terganggu. demikian kebiasaan saya...

      Semarang - Gemolong - Sragen saya selalu pakai, dibanding Semarang - Solo yang sering sekali macet, saya lebih suka tembus Sragen langsung.

      Bojonegoro sering banjir pak... sebaiknya dihindari, jadi lewat jalur tengah yang normal saja, Ngawi-Nganjuk-Jombang.
      Kalau bapak tidak berminat stay di Surabaya, di Krian (sering macet kalau lewat bypass, lebih baik lewat kota Krian) bapak bisa ambil arah Mojosari-langsung tembus ke Japanan/bundaran gempol untuk lanjut ke Bangil-Pasuruan.

      Jalur selatan jalan lebih kecil pak, akan makan waktu lebih lama. GPS is a must... dan lebih baik GPS yang handheld dan uptodate, bukan GPS bawaan mobil yang seringkali tidak uptodate.

      Lumajang apalagi Jember, hotel sudah jempol dempet pak. Kelasnya sudah seperti di Bali. Daripada menginap di Lumajang, lebih baik bapak menginap di Malang atau Jember yang pilihan hotelnya sangat banyak. Hotel di Jember booming karena lokasi2 wisata disekitar Jember yang gencar dipromosikan, selain Jember Fashion Carnaval yang sudah mendunia.

      Jalur Utara, Bangil - Pasuruan - Probolinggo - Kraksaan - Paiton - Besuki - Situbondo - Banyuwangi saya rasa masih paling baik.
      Hati2 sekitar Besuki - Situbondo jembatan agak parah, gunakan GPS, setelah Besuki ambil jalan alternatif ke selatan dan keluar di Bungatan atau Mlandingan. Banyak warga yang menunjukkanjalan, siapkan receh saja.
      Kemarin saya baru dari daerah ini sehingga walaupun sedikit ada penundaan tapi menurut saya masih ok.

      Kalau kurang sreg dengan jalur alternatif diatas, dari Besuki - arak-arak - Bondowoso - Situbondo. Bis dan travel jawa bali sudah pindah ke jalur ini karena situasi di jembatan Mlandingan (besuki). kalau kendaraan pribadi saya akan tetap pilih lewat alternatif Besuki - Situbondo.

      Kalau tetap ingin lewat Jember, lebih baik Jombang - Sidoarjo - Probolinggo - Jember. Atau kalau mau ambil jalur yang lebih bagus view nya, Probolinggo - Besuki - Arak-arak - Bondowoso - Jember, tanjakan agak berliku di arak-arak tapi view sangat menyejukkan hati...

      semoga lancar...

      Delete
  5. Baru saja sampai Surabaya. Thanks banget atas petunjuknya pak Rizal, bravo.. Top banget deh

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  8. mas rizal, makasih utk infonya. saya rencana mau jalan darat pake.motor nih, Jimbaran ke Surabaya, mungkin bisa sampe Jkt - tergantung mood n cuaca :-). kami cewe2. Ada masukan ngga, jalan mana yg sebaiknya diambil, dan jam2 berapa. thanks ya mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seruu... hehehe... jalan raya itu sih, cuman kalau naik motor, sebenarnya banyak banget tempat bersinggah yang menarik, di Negara ada Bendungan dekat desa Palasari, mampir Pulau Menjangan (lewat labuhan lalang) di dekat Gilimanuk.

      Kalau nyebrang ke Ketapang, di Banyuwangi lagi banyak promosi tempat wisata, pantai Boom, Gunung Ijen, pantai merah, papuma.
      Di Bangsring dekat banyuwangi juga ada tempat watersport.

      Singgah di Taman Nasional Baluran ? ada pantai Bama.
      Singgah di Pantai Pasir Putih selepas Situbondo, makan sate lalat, ikan bakar... yang jelas jauh lebih murah dibanding Jimbaran hahahaha...

      So, begitu dah tempat singgahnya, kalau mau langsung jalan, mending jalan mulai subuh ? supaya gak terlalu panas di jalan, kalau panas bisa berteduh dulu dan sore hari sudah bisa sampai di Surabaya.

      salam.

      Delete
  9. thanks mas info ny
    rencana desember mau bawa mobil dri denpasar ke surabaya
    mobil bos e
    heee

    ReplyDelete
  10. Halo... Nyasar kesini... Sy sebelumnya pernah Denpasar - Malang via Pantura... Yg ingin sy tanyakam kalau lewat jalur Selatan kira2 gimana yah ? Tq.

    ReplyDelete

Glad if you could give me a feedback :), cheers matey..