Search This Blog

Wednesday, August 24, 2011

Menghindari Konflik...

Sharing... :) semoga berguna...

Saya kira ini topik yang sangat universal, kelihatannya umum, dibutuhkan oleh setiap orang karena setiap manusia pasti akan berinteraksi dengan manusia lain.
Kemudian juga seringkali terasa complicated (rumit) karena tiap orang punya sifat (baca preferensi tersendiri ketika menghadapi suatu kondisi...) yang khas, kondisi / situasi yang dihadapi juga selalu beragam baik kepelikan maupun kedalaman masalah...

Saya merasa guideline (tuntunan) yang paling umum dan manjur untuk menghadapi konflik adalah sebagai berikut :

1. Konflik bisa dihindari dengan cara masuk ke dalam konflik itu sendiri.
Jika kita 'takut' konflik, takut berkeinginan dan mengambil tindakan nyata untuk memecahkan masalah, maka oposisi / partner kita tidak pernah tahu posisi / sikap kita, masalah tidak pernah betul2 selesai sehingga akan terus menerus menghantui kita dengan frekuensi dan intensitas yang semakin lama semakin besar.
Potensi terjadinya salah sangka, miss communication, semakin besar.

Semakin ditunda (lari dari konflik, lari dari permasalahan), semakin banyak masalah yang akan mengejar kita.

So hadapilah masalah, masuklah dalam konflik.

Untuk memperkuat mental kita anda bisa merenungkan beberapa wejangan dibawah ini :
* Jangan pernah ingin berkonflik, tapi jangan pernah takut masuk ke dalam konflik.
Ini mengingatkan anda bahwa anda (atau semua orang) sebenarnya tidak suka konflik, anda tidak suka marah atau mengeluarkan suara keras, anda tidak ingin orang lain sakit hati, anda tidak ingin menyinggung perasaan orang lain, anda tidak ingin 'menghabisi' orang lain, mematikan karir / mata pencaharian, atau melakukan tindakan keji lainnya.
Anda hanya ingin membereskan masalah dengan menempatkan SEGALA SESUATU pada tempat yang tepat.

* Fokus untuk mencari Solusi, bukan (pada tempat pertama) melindungi seseorang, mencari-cari siapa yang salah (dan kemudian berhenti sampai disitu).
Orang enggan untuk disalahkan, jika satu pihak merasa ia harus menanggung semua kesalahan maka perundingan anda akan berpotensi mengalami deadlock.
Arahkan sebagian besar energi dan waktu untuk mencari solusi, tekankan kegentingan masalah yang sedang dihadapi, resiko yang akan terjadi jika masalah tidak terpecahkan.


2. Analisa setiap sisi masalah, siapa saja yang berkepentingan, dimana kepentingan masing2 pihak.
Kenali kepentingan masing2 pihak. Ini menjadi hal yang utama supaya anda bisa menemukan win-win solution. Dalam hampir setiap perundingan, kepentingan selalu berperan lebih besar dibandingkan inti permasalahannya. Selalu ada ketakutan atau keinginan yang tersirat dibalik masalah sebenarnya.


3. Kenali 'level' lawan bicara anda, kenali kekuatan dan kelemahan yang anda dan dia miliki. Sifat-sifat dan karakternya.
Ini berguna untuk melindungi diri, mempersiapkan argumen dan mengarahkan pembicaraan agar tidak sampai memukul diri anda, hindari hal-hal yang bisa membuat perundingan dead lock sambil terus menerus menempatkan lawan bicara di posisi yang anda inginkan.


4. Untuk dapat terus menerus mengikuti perkembangan perundingan, sambil melakukan analisa anda harus selalu 'in control' terhadap pikiran anda, ie : tidak boleh emosional.
Boleh marah, boleh tersinggung (dan mengungkapkan ketersinggungan atau ketidak sukaan anda) tapi tidak boleh sampai kehilangan kontrol.
Artinya anda harus selalu bisa berbicara dengan dan memerintah pikiran anda.
Ayo sekarang marah (tegas), sekarang berhenti marah, sekarang mengasihani, sekarang empati, sekarang tersinggung, dst.... :).


5. Berbicara tanpa bisa terbantah. Membuat semua pihak mendengarkan anda dan tidak terus menerus bicara sendiri-sendiri (nggak ketemu satu sama lain).
Jika anda bisa menempatkan lawan diskusi di 'tempat' yang anda inginkan (dengan mengontrol emosi, dengan mengerti kepentingan dan sifat lawan diskusi dll) membuat lawan anda merasakan bahwa anda sudah mengerti kepentingan mereka, anda perlu menambahkan unsur argumentasi dan bukti untuk memperkuat posisi anda.
Dengan argumentasi yang terarah, bukti2 yang mendukung, semuanya membantu anda untuk menggiring lawan2 diskusi supaya tidak lari dari materi diskusi, tidak lari dari solusi yang anda inginkan.



Beberapa pedoman yang dapat anda pegang :
* Semua kesalahan harus ditempatkan di porsi yang seharusnya, karena tidak ada orang yang 100% benar atau 100% salah. (Semua pihak memiliki sisi benar dan memiliki sisi salah dengan porsi yang beragam).
Tidak ada yang boleh saling menyalahkan, fokus selalu dikembalikan pada solusi baik yang jangka pendek maupun jangka panjang (agar tidak terulang lagi), jangan sampai masuk ke scenario blaming other, pointing finger (saya tidak mau repot, orang lain yang harus melakukan pembenahan / mengalami semua kesulitannya), saya komentator saja.... dll.

* Satukan semua keinginan dan ide, kondisi2 dan keinginan yang tidak 'membumi' untuk melindungi diri sendiri ditegaskan untuk bisa dihapus.
Penting agar semua orang merasa kepentingannya sudah terakomodasi dalam keputusan akhir.
Usahakan semua orang terlibat.
Peran tiap orang dibagi sesuai dengan kapabilitas, wewenang dan tanggung jawabnya.
Jalan pikiran yang kurang proaktif, mengandalkan orang lain, kurang sering bertanya, banyak berasumsi dll dibenahi dan ditekankan untuk tidak diulangi.

* Jalan pikiran negatif, yang membuat perundingan mengarah pada deadlock, 'diperingatkan' untuk tidak diulangi karena tidak membawa pada solusi dan hanya untuk melindungi kepentingan diri sendiri saja.
Jika perlu konsep baru cara interaksi, budaya kerja, sistem reward punishment yang otomatic dan fair harus ditetapkan. Walaupun budaya demikian belum ada, biarlah lawan diskusi anda membayangkan dan mengamini kondisi yang ingin dicapai tersebut. Anda memberikan batasan moral dalam diskusi.



Kesimpulan : Untuk menghindari konflik, selesaikanlah konflik, be in charge ! Jadilah bagian dari solusi bersedialah menanggung tanggung jawab dan pada saat yang sama menagih komitment dari lawan diskusi anda. Hapus pikiran anda sedang berkonflik, tidak anda tidak berkonflik, anda sedang mencari solusi, niscaya lawan diskusi anda akan bisa merasakan keinginan anda ini....



+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-


Thursday, August 11, 2011

Possibility vs Probability.....

Sebelum saya menjelaskan maksud saya :), saya ingin bertanya apakah anda pernah bertemu dengan kondisi-kondisi atau pernyataan-pernyataan seperti ini :

* Sebenarnya buat apa sih sekolah tinggi-tinggi ? toh yang penting adalah bisa bekerja… Lihat saja itu Liem Sioe Liong (salah satu konglomerat Indonesia jaman Soeharto), cuman lulusan SD tapi bisa kaya raya. Saya punya temen yang sekolahnya cuman SMA tapi sekarang bekerja sebagai bla bla bla…. Sekarang sudah enak dibanding saya yang sekolahnya sampai S2.

* Saya kuatir jika aturan baru itu ditetapkan, maka saya akan terkena imbasnya ketika peristiwa A, B, C, D terjadi... (padahal contoh peristiwa2 yang disebutkan itu jarang sekali terjadi atau hanya sesekali saja terjadi, sangat kasuistis, sudah ter-solve dengan baik dst).

* Gua takut ikut diving, entar kalau ketemu ikan hiu bagaimana, entar kalau tiba-tiba ada tsunami gimana ?


Mind block dari pendapat seperti diatas adalah ketidak mampuan kita untuk membedakan 'Possibility' dan 'Probability'.

Dua kata dalam bahasa Inggris ini biasanya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai : mungkin atau kemungkinan.
Terjemahan yang lebih akurat bagi saya adalah yang lazim dipakai dalam matematika : Probability diterjemahkan sebagai 'Peluang'.
Namun sayangnya kata-kata ini kurang lazim digunakan oleh kebanyakan orang. Peluang lebih berkonotasi 'kesempatan', 'chance' dari pada 'Probability'.

Perbedaan utama dari Possibility dan Probability adalah sebenarnya sebagai berikut :
Possibility, hanya memiliki 2 option, Possible or Not Possible, 1 atau 0. Sifatnya Discreet.
Probability memiliki option yang tidak terbatas, mulai dari Highly Probable, More Probable hingga Less Probable, Least Probable dll, bergerak antara 1 dan 0, continuum bukan discreet.

Bagaimana teman ? Apakah anda sekarang sudah mengerti maksud saya ? :).

Dalam mengambil keputusan, dalam berinvestasi (termasuk bersekolah, itu adalah investasi), kita berusaha mencari probability yang tertinggi untuk 'sukses', (kita berusaha meningkatkan probability kita untuk menjadi orang yang kaya dengan misalnya sekolah hingga S2).
Namun kita tidak akan pernah bisa menghilangkan possibility kegagalan.

Ketika kita merasa kuatir, yang menonjol dalam pikiran kita adalah possibility padahal seharusnya kita memperhitungkan juga probability nya.
Anda berani naik pesawat terbang (walaupun banyak berita kecelakaan pesawat terbang di koran) karena anda berpikir probability terjadinya kecelakaan pesawat terbang sangat rendah.
Coba check website ini : http://planecrashinfo.com/rates.htm

Salah satu pernyataan tentang probability kematian dalam kecelakaan pesawat :
(jika dihitung probability terjadi kecelakaan saya ada kekuatiran karena makna kata  'kecelakaan' dapat bermakna sangat luas, dari mulai pesawat tergelincir di landasan, hingga fatality crash).
"Aviation accidents are extremely rare, with the probability of a passenger being killed on a single flight at approximately eight million-to-one. If a passenger boarded a flight at random, once a day, everyday, it would statistically be over 21,000 years before he or she would be killed."

Namun jika anda berpikir possibility, maka dijamin anda tidak akan berani naik pesawat terbang, bahkan mungkin tidak berani keluar ke jalan raya, tidak berani jalan ke WC dll :).

Jika anda memiliki staff atau kolega yang selalu kuatir, selalu mempertimbangkan kemungkinan untuk gagal, jelaskan bahwa ia juga harus memperhitungkan probability atau peluang terjadinya kegagalan tersebut. Sehingga sebuah usulan yang briliant, suatu kesempatan yang menarik, suatu moment yang indah tidak sampai hilang atau rusak karena kekuatiran yang tidak pada tempatnya.

Orang yang tetap saja bertindak walaupun probability kegagalannya besar bisa kita sebut sebagai risk taker, atau over confidence, terlalu cepat mengambil keputusan dll (meskipun belum tentu demikian... :D ).

akhir kata :
Its life... know your strengths and weaknesses, calculate probability, analize possibility and make your decision !



with smile....

-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+

Wednesday, August 3, 2011

Berbagai macam 'Stop' dalam Diving : Safety Stop, Deep Stop.

Menyambung beberapa tulisan (atau lebih tepatnya rangkuman :) ) tentang dekompresi :
Sejarah Teori Dekompresi.
Perbedaan kecepatan naik.

Di thread ini saya ingin membuat rangkuman tentang Beberapa jenis 'Stop' yang dikenal di dunia diving sekaligus...


Mengapa 'Stop' diperlukan ?
Teori Dekompresi (Decompression Theory), dalam dunia diving selalu digunakan untuk menurunkan resiko DCS (Decompression Sickness) atau DCI (Decompression Illness) [used interchangeably].
DCS paling fatal bisa mengakibatkan kematian (Embolism, Lung Over Expansion), cacat permanen (bagian tubuh mati kaku, mati rasa), hingga paling ringan menyebabkan mual-mual, sakit kepala, pusing, merah-merah di dada / tangan dll.
'Stop' dibutuhkan untuk memberikan kesempatan bagi jaringan di dalam tubuh kita untuk mengalami dekompresi secara perlahan, agar Nitrogen dalam jaringan tubuh kita dapat dikeluarkan secara maksimal dan  aman. (lihat Sejarah Teori Dekompresi)

Dunia Diving diwakili oleh Institusi2 diving seperti PADI, SSI, ADSi, NAUI, DAN dll talah berusaha dengan keras mengurangi resiko DSC dengan menerapkan aturan dan procedure yang pada intinya adalah membuat penyelam melakukan dekompresi semaksimal dan seaman mungkin.

Berikut ini adalah daftar sekaligus penjelasan singkat tentang beberapa 'Stop', baik yang dianjurkan maupun yang diharuskan untuk mengurangi resiko terjadinya DCS.
Perlu selalu diingat bahwa kondisi fisik dan fisiologis tiap orang berbeda, sehingga kita perlu mengetahui dan mengukur kemampuan dan keterbatasan kita masing2, terlepas dari ada atau tidaknya aturan / procedure yang sudah ada.


1. (Recommended) Safety Stop

Jika kita berhenti selama 3-5 menit di kedalaman 3-6 meter (10-20ft), setiap kali selesai penyelaman, maka inilah yang dinamakan 'recommended' Safety Stop.

Betul, sesuai namanya, Safety Stop ini sifatnya adalah 'recommended' bukan 'mandatory'.
Anda boleh protest boleh gak suka :), tapi memang Safety Stop, namanya juga 'safety' stop diadakan untuk meningkatkan keamanan (safety) dan mengurangi resiko DCS.
Manufacture dive computer ternama seperti Suunto, Mares, Oceanic dll pun juga akan memposisikan Stop yang ini hanya sebagai rekomendasi saja, artinya tidak ada penalty yang anda terima jika tidak melakukan recommended SS ini.

Dasarnya sangat sederhana, semua Non Decompression Dive seharusnya tidak membutuhkan Stop di kedalaman tertentu untuk melakukan dekompresi. Asumsi yang dipakai adalah selama anda melakukan 'Non Decompression Dive' (tidak melakukan penyelaman dekompresi) dan mengikuti aturan kecepatan naik yang 9m/mnt (sekarang, atau dahulu 18m/mnt), anda sebenarnya tidak perlu berhenti di kedalam tertentu untuk melakukan dekompresi (mengeluarkan nitrogen dari tubuh anda).
Tubuh dianggap sudah mampu melepaskan semua Nitrogen dengan hanya melakukan ascend yang lambat, tanpa perlu stop di kedalaman tertentu.

Kalau kita tinjau lebih lanjut, alasan organisasi Diving int'l tidak menganjurkan (bahkan cenderung melarang) Debompression Diving adalah untuk mencegah 'keharusan' melakukan decompression stop.
Karena kondisi alam (up/down current, heavy surge, dll), emergency situation (missing buddy, accident, dll), teknik yang kurang memadai untuk hovering (new diver, blue water safety stop, dll) dapat membuat seorang diver tidak melakukan safety stop.


2. (Mandatory) Safety Stop

Mandatory SS sepanjang yang saya tahu hanya ada di RGBM calculation di Dive Comp Suunto saja.
RGBM memperkirakan adanya micro bubble sudah timbul jika anda melakukan paling tidak salah satu dari  2 attitude yang kurang baik selama diving dibawah ini :
a. Ascend lebih cepat dari 10m/mnt dalam waktu yang cukup lama. (ketika anda ascend dengan cepat, biasanya dive comp akan berbunyi 'beep' pendek untuk mengingatkan anda untuk slow down, jika anda terus ascend dengan cepat maka anda akan terkena mandatory SS).
b. Seringnya terjadi ascend lebih cepat dari 10m/mnt (Profile penyelaman).

Jika anda harus melakukan mandatory SS, maka anda akan berhenti di kedalaman 3-6 meter (10-20ft), selama waktu yang ditentukan oleh Dive Comp anda (tergantung sering dan lamanya 'pelanggaran' yang anda lakukan).
Jika anda melanggar mandatory SS ini, seperti yang tercantum di manual dive comp Suunto, anda akan diberi penalty sehingga No Deco Dive di dive berikutnya menjadi lebih singkat.
Artinya jika anda ingin mendapatkan No Deco Dive yang lebih lama, anda harus memperpanjang waktu Surface Interval anda....
make sense bukan ? kalau profile penyelaman gergaji, sering shoot up and down, maka istirahat lebih lama akan mengurangi resiko DCS :).

Saya hanya agak aneh dengan istilah 'mandatory' yang tenyata masih bisa di abaikan hahahaha...


3. Deep Stop

Sesuai dengan anjuran dari Paul Bert dan Haldane, bahwa untuk memastikan terjadi dekompresi yang sempurna, ketika ascend seorang penyelam perlu berhenti 1/2 jalan dari kedalaman maksimumnya.
Misalnya seorang penyelam masuk hingga kedalaman 30m, ketika ia mulai ascend, ia bisa naik dengan cepat (lihat topik : Perbedaan kecepatan naik) hingga mencapai 1/2 kedalaman maksimum (ie : 15m) kemudian (sesuai anjuran Paul Bert) berhenti 1 hingga 2 menit, dan kemudian melanjutkan ascend ke 7.5m dan kemudian berhenti lagi disana 1 hingga 2 menit, demikian seterusnya.

Jika anda menggunakan Suunto D series (D4, D6, D9) anda dapat mengaktifkan fungsi Deep Stop ini namun anda akan kehilangan count down (recommended) Safety Stop di 6-3m. Artinya jika Deep Stop aktif, anda terpaksa harus mengukur sendiri waktu safety stop anda karena Dive Comp anda tidak akan menghitungnya.

Deep Stop sifatnya adalah optional, sama seperti Safety Stop berfungsi mengurangi resiko DCS.

Bagi saya, konsep deep stop ini berfungsi sekali ketika melakukan deep dive (hence the name 'deep' stop came from...). Misalnya kita selesai deep dive ke 40m, kita bisa dengan cepat ascend ke kedalaman 20m (mengabaikan ascend speed yang 9m/mnt), berhenti di 20m selama 1-2 mnt (deep stop), yang jelas lebih kecil resiko DCS nya dibanding jika kita ascend lambat dari 40m....
Bisa juga menjadi alternatif, dalam situasi emergency, saya bisa naik dengan cepat ke 20m dan berhenti disitu daripada stay di 40m dan (misalnya terkena bahaya down current).



4. Decompression Stop

Ini adalah satu-satunya Stop yang sifatnya Mandatory / Obligatory yang dapat membuat Dive Comp anda ngambek kalau dicuekin. Jika stop yang satu ini diabaikan, dive comp akan mempenalty anda untuk tidak melakukan diving selama beberapa saat (biasanya 2 x 24 jam), dive comp biasanya hanya akan menjadi depth gauge dan dive watch saja, tidak mengindikasikan No Decompression time yang tersisa dll.

Jika anda melakukan Decompression Dive, anda akan diwajibkan untuk berhenti (stop) di kedalaman tertentu sesuai yang ditentukan oleh dive comp atau dive table anda, untuk melakukan dekompresi.
Jika anda menggunakan Dive comp, maka ia secara otomatis akan memberi tahu di kedalaman berapa dan berapa lama anda harus melakukan dekompresi.
Alternatively anda bisa juga menggunakan tabel dekompresi sebagai acuan pelaksanaan decompression stop (dengan atau tanpa dive comp).

Ini adalah satu-satunya Stop yang secara perhitungan diperlukan tubuh kita untuk mengeluarkan Nitrogen dari (terutama) 'slow tissues'. (lihat Sejarah Teori Dekompresi).
Decompression Dive artinya 'slow tissues' kita sudah mulai dipenuhi dengan Nitrogen, membutuhkan stop atau waktu yang lebih lama untuk mengeluarkannya agar kita tidak terkena DCS.


semoga berguna... :).

+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-

Thursday, July 28, 2011

The History of Decompression Technique... Sejarah Teknik Dekompresi

Salah satu hal yang cukup membingungkan bagi new Diver adalah istilah 'dekompresi',
Ok, dekompresi adalah lawan kata dari kompresi (peningkatan tekanan), and so what about it ?
Mengapa dekompresi menjadi hal yang sangat perlu diketahui dan bahkan diwaspadai oleh seorang penyelam ?

Ok, lebih dahulu kita bahas sedikit tentang dekompresi, apa itu dekompresi dan mengapa perlu melakukan Stop (berhenti naik / turun) di kedalaman tertentu untuk dekompresi.

Jika kita mundur ke penelitian awal Decompresi oleh J.S Haldane (1860-1936), Bapak Theory Dekompresi Modern, dalam thesisnya : The Prevention of Compressed Air Illness, Boycot AE, Damant GCC, Haldane JS, (klik untuk membaca makalah asli).
[Jika link diatas dihapus, copy paste judul diatas dan coba gunakan search engine anda].
Kita bisa mendapatkan beberapa kesimpulan penting yang masih valid dan digunakan hingga saat ini.

Pertama, teori dekompresi adalah hasil dari penerapan hukum Henry (Henry's Law) dalam penyelaman.
Dalam suhu tertentu, jumlah gas yang terlarut dalam cairan tertentu sebanding dengan tekanan yang dialami  (partial pressure) gas dalam cairan tersebut. ie : semakin tinggi tekanan yang dialami, semakin banyak gas yang terlarut.


================================================
Catatan Praktis :
Bagi anda yang kesulitan menangkap penjelasan yang 'teoritis', saya coba menuliskan secara singkat 'gambaran prakteknya' untuk memudahkan materi ini dimengerti...


Dikaitkan dengan prakteknya, semakin dalam orang menyelam, semakin banyak Oksigen dan Nitrogen (kira-kira 30% berbanding 70% seperti kondisi di darat) yang masuk kedalam seluruh sel tubuh nya.
Gampangannya... kalau di permukaan air laut (1 ATM) kadar Oksigen terlarut dalam tubuh manusia dimisalkan 3.000 ppm, maka di kedalaman 30m (4 ATM) maka kadar oksigen  menjadi 4 kali lipat = 12.000 ppm.
Hal yang sama dengan Nitrogen jika dimisalkan kadar Nitrogen terlarut dalam tubuh manusia (masuk terutama melalui paru -paru dan melalui kulit...) 7.000 ppm, maka di kedalaman 30m kadar Nitrogen juga akan menjadi 4 kali lipat = 28.000 ppm.


Tentu saja, walaupun secara ppm Nitrogen dan Oksigen kadarnya lebih banyak, tubuh manusia enggak akan 'menggelembung' karena tekanan 4 ATM membuat volume yang ditempati oleh tambahan kadar Oksigen dan Nitrogen tersebut kurang lebih sama saja.


Inilah kondisi yang dimaksud oleh Hukum Henry diatas, kompresi gas kedalam tubuh manusia.
Sekarang, kita tau bahwa Oksigen tersebut 'consumable' artinya akan habis digunakan oleh manusia dan diubah menjadi CO2 (inget pelajaran SD, manusia bernapas menghirup O2 dan mengeluarkan CO2...yaitu di seluruh sel di tubuh kita).
Nitrogen adalah gas inert (check mbah google ttg definisi inert gas) yang tidak dikonsumsi oleh tubuh kita, dan besarnya adalah 70% dari total udara yang kita hirup.


Nah, sekarang bayangkan kalau tubuh kita secara tiba-tiba kehilangan tekanan 4 ATM (naik dengan cepat langdung ke permukaan air), tubuh diharuskan mengeluarkan 28.000 ppm Nitrogen untuk kembali ke 7.000 ppm dalam waktu singkat pula.
Karena tidak mungkin tubuh kita melepaskan nitrogen dengan kadar tinggi dengan cepat, maka akibatnya di dalam tubuh kita, Nitrogen yang kehilangan tekanan sekeliling akan menempati volume 4 kali lebih besar dari yang sebelumnya dibutuhkan.
Penambahan volume dengan cepat tanpa bisa tersalurkan ke luar tubuh tersebut akan membentuk 'bubble' di dalam sel-sel tubuh kita.
Bubble tersebut akan berusaha keluar dari seluruh permukaan tubuh kita, mereka mencari sendiri jalan keluarnya, tentu saja jalan paling mudah adalah lewat pembuluh darah di paru-paru dan semua pembuluh darah yang berhubungan langsung dengan jalan keluar udara (mulut, hidung, telinga, dll).



Jebol lah si Paru-paru (Embolism) dan semua pembuluh darah di tubuh kita.
Istilah umumnya : Paru-paru Meledak ! (sebenarnya : semua pembuluh darah di tubuh kita meledak) dan ini adalah tingkat akut dari penyakit dekompresi yang hampir selalu berujung pada kematian. 
Hal yang sama terjadi pada 2 orang penyelam angkatan laut yang meninggal di Pasir Putih 7 Juli 2012.
2 orang prajurit (berpangkat Mayor dan Kolonel laut) meninggal dunia karena 'pop up' langsung nyembul dari 20m an ke permukaan air laut.... paru paru meledak dan darah keluar dari mulut, hidung, telinga..



check mbah google untuk berita kecelakaan ini selengkapnya...

=================================================

Dan kembali ke penjelasan teori......

Dengan berdasarkan pada hukum Henry, Haldane mengamati dan menemukan bahwa penyakit Caisson (Caisson Dissease) atau juga sering disebut 'bends' kala itu (sekarang disebut juga DCS : Decompression Sickness) ternyata disebabkan oleh cara dekompresi yang keliru.
Para pekerja di bawah air (biasanya lebih dalam dari 5m atau 1.5 atm) sering kali mengalami bends dan kematian ketika mereka keluar dari air.
Haldane kemudian melakukan penelitian tentang bagaimana teknik dekompresi yang benar untuk menghindari penyakit-penyakit dekompresi.

Inti dari penelitian Haldane adalah sebagai berikut :
"Whether or not the decompression is free from risk will depend on the degree of supersaturation which can be borne with safety, the extend to which the blood and tissues have had time or opportunity to become saturated, and the extend to which they have had time to become desaturated again during decompression."
3 faktor inilah yang diteliti oleh Haldane dalam thesisnya.
Semakin tinggi sel tubuh mengalami saturasi, semakin besar resiko safetynya.
Berapa lama waktu yang diperlukan untuk tubuh atau sel menjadi saturasi dan berapa lama waktu yang diperlukan untuk mendesaturasi nya.

Haldane juga menulis bahwa bubble (yang dapat menghambat aliran darah / oksigen) hanya timbul jika partial pressure dari gas pembentuk bubble tersebut lebih besar dari eksternal pressure. Dan bubble tersebut adalah gas nitrogen (sebab oksigen terkonsumsi oleh tubuh, sedangkan nitrogen tidak (inert gas)).

Proses terbentuknya bubble juga dipengaruhi oleh kecepatan dekompresi (kecepatan penurunan tekanan).
Anda bisa membayangkan soda yang terlarut dalam minuman bersoda (coca-cola, sprite, dll). Jika anda menuangkan minuman bersoda dalam gelas, anda akan melihat gelembung-gelembung udara kecil yang tertahan dalam gelas dan perlahan-lahan hilang dalam 1 - 2 jam.
Demikian juga nitrogen yang ada dalam tubuh anda akan bereaksi terhadap penurunan tekanan yang seketika.
Semakin cepat tekanan (ambience pressure) menurun, Nitrogen yang keluar dari tubuh ke pembuluh darah dengan cepat (burst) akan membentuk bubble dalam jumlah yang banyak pula.


Tentang bubble ini, Haldane menulis :
"If gas bubbles are formed in consequence of too rapid decompression, they will naturally tend to increase in size by diffusion into them, in whatever part of the body they may be except the arteries, for sometime after the end of decompression. They may thus easily cause blocking of small vessels, and even if they are carried to the right side of the heart or the pulmonary arteries, and lodge there, they will increase in bulk until the total gas pressure in the mixed venous blood falls to one atmosphere. The same remark applies to bubbles which lodge in the branches of the portal veins."

Ilustrasi dari Haldane diatas dapat menjelaskan bagaimana bubble berada di semua pembuluh darah, bahkan hingga ke pembuluh darah jantung. Bubble dapat dengan mudah membuat pembuluh darah yang berukuran kecil tersumbat dan akibatnya bagian tubuh tertentu tidak lagi tersupply darah beroksigen, menjadi kaku, sulit digerakkan. Jika tidak segera terbuka sumbatnya maka bagian tubuh itu dapat mengalami kelumpuhan permanen.
Inilah mengapa penyakit caisson ditemukan terutama pada persendian (yang membuatnya dinamai 'bends'- bengkok, karena bagian tubuh tersebut menjadi mati rasa dan tidak bisa diluruskan lagi).

Untuk menghindari timbulnya bubble, Haldane menyarankan agar dekompresi dilakukan dengan selambat mungkin dan dilakukan secara 'uniform'. Artinya kepada semua pembuluh darah, kepada semua jaringan tubuh.

Saran yang sama juga pernah dilontarkan oleh Paul Bert (1833 - 1866).
bahwa divers and caisson workers (should) decompress slowly and at a constant rate
“for they must not only allow time for the nitrogen of the blood to escape but also to allow the nitrogen of the tissues time to pass into the blood”.

Bert adalah orang pertama yang mengusulkan Deep Stop, dimana seorang penyelam diharuskan berhenti setengah jalan ke permukaan, setelah melakukan Deep Dive.
Tujuannya tetap sama yakni untuk memberikan waktu yang cukup bagi tubuh dan pembuluh darah untuk melepaskan nitrogen.

Bert juga adalah orang pertama yang mengusulkan treatment bagi penderita DCS :

1. Rekompresi : DCS dapat dihilangkan dengan membawa penyelam kembali ke lingkungan bertekanan tinggi kemudian melakukan dekompresi perlahan. (note : metode 'in-water recompression seperti ini sekarang dianjurkan untuk dihindari, terutama jika jarak recompression chamber cukup dekat, karena lebih besar potensi masalahnya daripada manfaatnya).
2. Menghirup Oksigen Murni : Penderita DCS diminta menghirup oksigen murni (yang tidak mengandung nitrogen) untuk mempercepat hilangnya nitrogen dari dalam darah.


Kembali pada Haldane, ia adalah orang pertama yang menggunakan model half time untuk menghitung kecepatan masuk dan keluarnya nitrogen dalam darah. Ia menggunakan 5 tissue compartment dengan half time yang berbeda.

Point utama dari model half time adalah, kita perlu lebih waspada pada 'slow tissues', organ tubuh yang lambat menyerap (dan melepas) nitrogen. Karena organ inilah yang berpotensi menyimpan nitrogen paling lama, dan berpotensi menimbulkan buble ketika terjadi penurunan tekanan yang drastis.

Dengan menggabungkan metode perhitungan half time, deep stop, Haldane kemudian membangun dive table yang kemudian akan menjadi dasar Dive table yang lain (dengan perubahan minor maupun major).
Beberapa peneliti selanjutnya menemukan dan menambahkan beberapa 'slower tissues' compartment.
Albert Buhlmann (1923-1994) misalnya, menggunakan 16 compartment.

Tabel Buhlmann inilah yang kemudian banyak digunakan (dan dimodifikasi) oleh organisasi2 diving di dunia dan juga para produsen dive computer.


So, dari penjabaran diatas, saya harap kita bisa mendapatkan penjelasan yang cukup tentang teori dekompresi dan mengerti mengapa kita perlu melakukan dekompresi secara perlahan.
Shooting up dari 20m ke permukaan bukan hal yang indah untuk dilihat :).


+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-

Thursday, July 21, 2011

Hydroid dan Crinoid

Saya lagi baca2 dan ingin mengenal dan menghapal tentang 'hydroid...'
Istilah yang selalu saya gunakan untuk tanaman (atau lebih tepatnya : hewan) yang biasa menempel di sea fan, gorgonian, dan juga wet suit :).
Ternyata saya menemukan beberapa info yang menarik. Karena hewan yang saya maksud ini serumpun dengan sea star (bintang laut) dan nama nya adalah Crinoid atau feather star (Phylum : Echinoderm, sekeluarga dengan sea star, sea urchin dan sea cucumber !).

Sedangkan 'hydroid' sendiri yang walaupun punya karakteristik sama, bisa 'menyengat' (ie : stinging hydroid), namun termasuk Phylum Cnidarian (sekeluarga dengan anemone, jellyfish etc).

Satu pengetahuan yang mengejutkan bagi seorang awam biologi kelautan seperti saya :).....

Well, biar gak berlama-lama, ini lho yang namanya Sea Feather (Crinoid) ! Termasuk keluarga Sea Star (Bintang Laut) !
Dia bisa 'berjalan' sebenarnya lho...

Crinoids... lihat cengkeraman kaki-kakinya yang tidak kuat
Membuat si Crinoids ini bisa 'berpindah'.















Dan ada juga yang bisa melipat dan mengembang seperti daun pakis :), istilahnya ternyata 'crevice' feather star.

'Crevice' Feather Star
Crevice Crinoid















Crinoid di ujung Sea Fan....




















Sedangkan Hydroid adalah yang bentuknya seperti ini :
Hydroid














Stinging Bush Hydroid
Feather Hydroid














Branching Hydroid















Hydroid ini kelihatannya tidak bisa 'berjalan', menancap dan mengakar di koral / batu, sedangkan Crinoid bisa bergerak, menempel di coral, sea fan, dll.
Tapi mereka semua tetap saja harus dijauhi karena sangat mudah menempel dan melukai kulit.
Stinging Hydroid bisa menyengat dan menyebabkan kulit melepuh mirip seperti efek fire coral (koral api).
Crinoid sangat sering tertempel di wet suit atau glove kita akibat gerakan kita selama menyelam yang terlalu dekat dengan koral.

Semoga menambah pengetahuan....

Related Post : Coral Types and Their Scientific Names


+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-


Thursday, July 14, 2011

Menonton Sendratari Ramayana di Candi Prambanan

Jika anda sudah sering pergi ke candi Borobudur, anda sebenarnya masih memiliki satu candi alternatif yang lain yang bisa anda singgahi, yakni Candi Prambanan. Terletak di Kabupaten Sleman, dekat kota Klaten. Candi Prambanan akan selalu anda lihat jika anda bepergian dari Yogja ke Solo atau sebaliknya.
Candi ini langsung terletak di pinggir jalan besar.


Ticket Masuk untuk 1 orang 50ribu rupiah. Kamera atau video akan dicharge terpisah (sontoloyo....) dan cukup mahal... Jam operasional mulai pagi (lupa jam berapa) hingga jam 18:00 WIB.
Nah... ada hal yang menarik lagi sebenarnya karena jam 20:00 WIB anda bisa menyaksikan pertunjukan sendratari Ramayana yang setting panggungnya berlatar belakang-kan Candi Prambanan ini.
Juga tersedia makan prasmanan di bagian luar tempat pertunjukkan (19:00 WIB), dimana anda juga bisa berfoto dengan latar belakang Candi Prambanan.

Me and Prambanan as background
Candi Prambanan Modif with HDR
Candi Prambanan at Night...

Saya gak tau berapa ongkos untuk ngeliat pertunjukan sendratari Ramayana ini karena ticketnya dibayarin sama kantor :). Tapi saya rasa ini pertunjukkan yang worth visiting.
Ada 3 kelas, VIP (ada Minum, snack, WC khusus), kemudian kelas 1 dan kelas 2. VIP dapat tempat duduk yang empuk di depan panggung, Kelas 1 dan kelas 2 duduk di atas batu (unique kok, asik aja...) kelas 1 di posisi diagonal dari panggung, sedangkan kelas 2 duduknya di samping kiri dan kanan panggung.

Panggungnya sendiri terdiri dari panggung yang rata yang cukup luas, sekitar 30 x 40m. Dan dibelakangnya ada panggung bertingkat yang sudah didesign dengan apik, bisa keluar dari atas, keluar dari samping, tengah, dst.

Yang paling menarik sebenarnya adalah pertunjukkannya itu sendiri... breath taking, colosal, beautiful... whatever word you can say to express it....

Check out the photos...
For complete story of Ramayana click this link.


Rama and Sinta banished from Kosala
for 14 years.
Rahwana and his army...
Deer that attracted Sinta's attention,
She asked  Rama to capture  her.






















Rama against the deer that actually Rahwana's minion.

The Army of Wanara, Sugriwa and Subali at the ladder.

Rama Killed Subali to gain Sugriwa's support.
















Alengka's Lady
Shinta being seduced by Rahwana
but twarted by Trijata, Wibisana's daughter.




Hanuman, The White Monkey General met Sinta
and gives Rama's Ring. Trijata at the back accompany Sinta.











Hanuman, captured by Indrajit (Rahwana's Son)
and then being burned to death.














'Hanuman Kobong', while being burned, Hanuman
also burned Alengka's to ashes.










Rama marched to Alengka, crosing the sea by means of a causeway
made by hurling huge stones into the sea
Alengka's War, Kumbakarna being surrounded by wanara soldiers.

Rama against Rahwana
Rahwana is invulnerable with Rama's Sword


Rahwana's Death by Rama's arrow (do you see the arrow ?? :)).
Rahwana being held still by two rocks who are actually his daughters.













Shinta's virtue test by fire. She passes the test.

Happily ever after couple at Kosala.

Kuliner Salatiga, Rumah Makan di Pemotongan

Salah Satu kuliner yang yahudd di Salatiga adalah Soto Pojok di jalan Pemotongan.
Uhh... kalau bicara tentang Soto, banyak yang suka dengan Soto Parmoso, Soto Garasi Bus Esto, dll.
Tapi saya pribadi prefer Soto Pojok ini dibanding soto2 yang lain... Soto Esto bersantan... udah agak umum, mirip Soto versi Betawi dan saya kurang suka rasanya. Sedangkan Soto Parmoso... hehehe... agak mahal...
Tapi Soto Parmoso ini khas soto Salatiga, plain rasanya, kuahnya tidak penuh dengan bumbu seperti soto Madura atau Soto Jawa Timur lainnya.

Soto di Salatiga (Soto Parmoso, Soto Pojok, dll)  karena rasanya memang basicly plain, kaldu ayam plus sedikit bumbu, (kuah bening), harus dimakan dengan 'ikan' tambahan. Anda bisa minta dipotongkan babat, iso (usus), telur, atau apapun yang tersedia di meja...

Nah, kembali ke Soto Pojok, anda WAJIB mencoba versi saya nih, coba minta dipotongkan babat, taruh di mangkok dan laburkan kecap manis sampai si babat tenggelam dalam kecap manis.
Kuah yang plain akan jadi sangat enak ketika dimakan dengan babat yang gurih dan kecap manis...
Slurrpsss... yammie.... memang Salatiga kota yang akan bikin anda gemuk ! hehehe...

Sorry foto Soto Pojoknya menyusul ya, kapan2 kalau saya ke Salatiga lagi hehehe...

Yang ada ini foto (Ex) Rumah Makan Prima, Rumah makan Blora dan Rumah Makan Medan di jalan Pemotongan (bawah). Nostalgia makanan anak kos jaman dulu nehh !! hehehe...
Silahkan liat foto2 dibawah untuk bernostalgia. Foto2 ini diambil bulan Mei 2011.
Rm Medan di Jalan Pemotongan (bawah) Salatiga

Rumah Makan Blora, Jl Pemotongan (bawah) Salatiga.
Menu : Sate Blora, (dulu) hari kamis khusus Gurami kuah Garang Asem...
Rumah Makan Prima sekarang sudah jadi toko Onderdil dan Bengkel Motor
Perhatikan bekas wastafel untuk cuci tangan... hehehe... nostalgiaaa......


Mengenang tempat2 makan begini betul2 bisa membawa kita kembali ke jaman kuliah... serasa masih kuliah di Satya deh :).
Sharing ya kalau temen2 ada info perubahan dan perkembangan kota Salatiga tercinta....

Kuliner Salatiga, Pecel Madya

Aduh... bersyukur setengah mati saya akhirnya bisa menaruh artikel ini di blog saya :D.
Favorit saya sejak kuliah di Satya Wacana dahulu dan sekarang adalah salah satu makanan yang paling saya rindukan kalau pergi ke Jawa Tengah.

Saya ingat dahulu, tahun 1992-1997, lokasi ini tidak terlalu berubah banyak, tidak membesar banyak dibandingkan sekarang. Harga makanan juga kurang lebih sama, tidak terlalu terimbas inflasi :).
Saya ingat pertama kali saya datang ke Pecel Madya ini, diajak oleh teman-teman satu kos Muwardi 9A, Rico, Jonny. Saya cuman bawa uang 3.000 perak, pikir saya makan pecel aja kok, pasti gak mahal2 amat.
Sampai di Pecel Madya, saya yang baru datang dari Jawa Timur tidak tau kalau adat istiadat makan di Jawa Tengah itu WAJIB pakai tambahan menu...
Kalau di Jawa Timur satu paket nasi pecel sudah dengan dadar jagung, peyek dll, di Pecel Madya ini (dan di semua restaurant/warung di Jawa Tengah), semua 'ikan' itu harus milih atau nambah sendiri terpisah dari menu utama.
Alhasil saya milih beberapa tambahan menu, telur ceplok, iso (usus), dll, habisnya 7.000 rupiah ! hehehe... terpaksa ngutang sama temen deh hiehiehiehie.... malu, tapi gimana lagi, namanya juga baru tau...

Ngomong2... berikut nama2 menu tambahan di Pecel Madya yang khas Jawa Tengah hiehiehiehie...
- Onclang - semacam omelette / telur dadar, namun banyak dikasih bumbu, irisan sayuran, bawang, tepung dll, baru digoreng. Warnanya juga sudah jadi warna coklat bukan kuning seperti warna telur dadar.
- Iso - Usus (ayam ?), digoreng sedikit dengan bumbu, gurih, tapi high colesterol dan high uric acid hahaha.... tapi aduhhh... uennnaaakkk puollll... gurih2 asin... (asinnya gara-gara isi nya usus itu ya hiehiehiehiehie....).
- Handuk - Babat, kulit dalam lambung (?), digoreng juga, ini kelihatannya khas Salatiga juga, karena banyak soto, tongseng dan makanan2 lain yang pakai babat goreng... enaknya minta ampuuunnn juga hiehiehiehie...
- Martabak - Yang gemar kriuk-kriuk kalau makan, mending tambahkan potongan martabak ke dalam racikan pecel anda... martabak yang saya maksud berbentuk persegi berukuran 5 x 7 cm, minta saja sama Mbah Mul yang jual untuk potong2.
- Ceplok - Telur ceplok, alias mata sapi alias bulls eye hehehe... normal2 aja ini.
- Dadar Jagung - menu normal :).
- Ayam - gak jelas ini ayam bacem atau ayam goreng, tapi menu yang ini masih belum nyambung di lidah saya.
- Masih ada pisang goreng (masa pisang goreng dimakan sama pecel ??), ada 'ote-ote' kagak tau namanya di Jawa Tengah apa... Dan menu2 lain yang saya nggak inget namanya...

Menu tambahan favorit saya adalah Iso, telor mata sapi dan martabak, kemudian saya minta kuah soto (fyi, soto kalau di Jawa Tengah kuahnya cenderung bening, banyak kaldunya, gurih tambah bawang goreng...) adduhhh... kalau sampai gak bilang uueeennnaaakkk... saya sembah deh hahahaha...

Nih saya tunjukin racikan favorit saya :
'Racikan' Favorit saya !!

Ini foto Mbah Mul per Mei 2011 ! salah satu anaknya yang biasanya membantu (lupa namanya, Mbak siapa gitu...) sedang keluar kota kata mbah Mul, diganti sama anaknya yang lain :).
Mbah Mul sedang bekerja... lihat tumpukan Iso, Babat didepan beliau...
Gang Masuk ke Pecel Mbah Mul !
Alias Pecel Madya...
























Pecel Madya Mbah Mul, tampak depan...






















Bioskop Madya, yang sekarang sudah
menjadi Gereja Mawar Sharon :)
Kondisi dalam warung Pecel Mbah Mul





















Pecel Madya Mbah Mul ini lokasinya di jalan Sukowati, di depan Balai Kota Salatiga.
Jika anda dari Selatan (Solo), masuk Salatiga lewat Jend Sud (Jendral Sudirman) - Ambil kanan di pertigaan ABC (hhehehehe... sorry, namanya memang begitu, karena ada papan reklame batterai ABC).
Dari Jend Sud, lurus saja terus sampai ketemu hotel Beringin (oh kenangan...) dan anda akan dipaksa belok kiri di jalan searah itu (btw, sejak beberapa tahun lalu, sebagian Jend Sud sudah jadi jalan searah).
Itulah jalan Sukowati... lurus saja... silahkan cari Eks Bioskop Madya yang sudah jadi Gereja Mawar Sharon itu di sebelah kanan Jalan.
Tentu saja sebelum Dupan (Dunia Pancasila (Lapangan Pancasila), hiehiehiehie... olok2 kami yang frustasi karena Salatiga gak ada Dufan, adanya 'Dupan' tempat ngumpul2 kalau ada keramaian, pasar malem dll... aduh... kacian dehhhh..., nasib jadi mahasiswa Satya...)

Oh ya, waktu operasinya : Senin - Sabtu mulai jam 5:30 an WIB, sampai habis kira2 jam 10:00 an gitu masih buka tapi biasanya sudah gak lengkap. Jadi waktu berkunjung ideal adalah jam 6:00 sampai jam 9:00 pasti sudah buka dan masih lengkap menunya.
Ingat hari minggu nggak buka ! mbah Mul sekeluarga ibadah di Gereja :).

Petunjuk kecilll... Pecel Mbah Mul
The Legendary Pecel Madya, Mbah Mul...




















Temen2 yang eks Salatiga... silahkan mimpi, ngiler, nangis terharu, dendam, ngomel dll, bayangin aja tuh Pecel Madya, nasi hangat, sayur segar... slurrrpsss... aahhhh...

HAHAHAHAHA... sukses deh saya bikin anda kepingin khaaannn... hiehiehiehie...

Tuesday, July 5, 2011

Trip Report : Menjangan - Pemuteran, 2 - 3 July 2011

Ini adalah trip pertama bersama elf A2DC Surabaya, sang pemilik kendaraan, Mr. San berkenan ikut serta dalam Elf dan bahkan menjadi supir bagi kami semua :). Betul2 pengalaman yang mengesankan.

Kumpul di McD bunderan Satelit, jam 18:30 - 19:00 kami baru berangkat jam 19:30 ber 11, semua gear masuk ke mobil double cabin mazda. Diiringi DVD David Foster and friends yang yahuddd kami mulai perjalanan ke Bali.
Singgah beberapa kali untuk 'buang muatan', makan malam disediakan oleh Pak Satriyo (pt. HESS), yang dengan baiknya membawakan nasi krawu dan nasi campur Gresik....
Kelihatannya perjalanan dengan Elf memakan waktu lebih panjang dari yang diperkirakan, kami baru tiba di Ketapang jam 03:30, sempat menunggu 1 jam karena antrian, masuk kapal jam 04:30 dan tiba di Gilimanuk 05:30 (06:30 WITA).

Kami check in di hotel Sari Gilimanuk (sebelum gerbang keluar gilimanuk, ada tandon air sebelah kanan, belok kanan. Masuk sekitar 300m, ada Karaoke (hiehiehiehihehiehie...) persis disebelahnya ada hotel Sari).
Tarif per kamar ada yang 175 rb, 200rb, 225rb (suit), before tax.
Kami kemudian berangkat langsung ke Disthy, telah menunggu Bli Nonong, Putu Sulastre dua DM yang akan mengantar kami ke Menjangan.

Dive 1, Menjangan, Wreck, Kapal Budak 
Visibility kurang bagus, karena baru mulai musim hujan. Air terasa dingin.
Mungkin sebulan lagi baru visibility akan bagus.
Kami dibagi menjadi 2 group, kelompok OW dan kelompok Advance,
Kelompok Advance masuk ke 30m, maks 40m dengan bottom time maks 10menit. No Deco Dive.

Masuk ke 40m kami hanya menemukan sisa-sisa besi dari Kapal Budak ini, tidak terlalu banyak yang dapat dilihat, kelihatannya kami harus masuk lebih dalam lagi untuk melihat bangkai yang lain. Visibility juga kurang baik dibanding kedatangan pertama kali saya kurang lebih 6 bulan yang lalu. Seharusnya pemandangannya ketika visibility prima akan sangat fascinating...

Some of the photos taken from Kapal Budak spot...
Jangkar kedua di 30m... 'beautifully encrusted' in Wally's book.
Besi... @37m...





















Setelah 10 menit, kami harus naik untuk menghindari Deco, di 20m kami bertemu dengan group OW dan meneruskan perjalanan bersama-sama.
Daerah sekitar wreck kapal budak ini memang kaya... saya rasa 2 dive spot terbaik di menjangan adalah Wreck dan Bat Cave (ke kiri / ke kanan). Pos 2 ke kanan menyajikan wall yang bagus namun sedikits sekali ikan disana.

Kami bertemu seekor penyu berparuh lancip :). See for yourself....
Penyu (Sea Turtle) @ Wreck Dive Spot, Menjangan, West Bali
Penyu (Sea Turtle)


Yara with Sea Turtle @ Wreck Dive Spot,
Menjangan, West Bali


































Blue Soldier Fish ?



Pak Santoso... In Action












Fishes @ Table Coral


































Dive 2, Menjangan, Pos 2 ke kiri (timur),
Dive 3, Menjangan, Pos 3 ke kanan (timur).
Makan siang di pos 2 kami lanjut langsung dive ke kiri, ke arah Bat Cave.
Menurut saya wall disini lebih baik daripada Pos 2 ke kanan (barat). Lebih kaya koralnya, lebih kaya ikan-kannya. Kami sempat berjumpat dengan schooling fish (kagak tau jenisnya)... nice view....
45 menit, kami ascend di sekitar dive spot Bat Cave.
Scorpion Fish, nangkring di koral kipas..
The Underwater Beauty....

Yara, nangkring di Koral....
Koral yang sehat... ikannya banyak...












Schooling fish @ Bat Cave...












































Dive 3 kita lakukan di tempat yang sama, di Pos 3 (Dermaga 3) kita coba cari arus ternyata kita telat turun, arusnya sudah mati... akhirnya kita dive dari dermaga 3 ke kanan ke arah Bat Cave.

Nudie @ Dermaga 3 Menjangan, West Bali.
Fan Coral, Dermaga 3, Menjangan, West Bali


Nudie Branch


Lydia... Ibu rumah tangga dan petualang sejati.....
Honeymoon lagee.....

Rizal Latief...  gliding near coral....
Pak Andi... first time with us....

Lepas masker oiii..... :).

















Pak Sutono (Tony)... on table coral....






































Day 2, kita berangkat ke Pemuteran kembali mengunjungi 'Candi Heboh' yang pernah saya datangi tahun lalu...
Naik kapal yang sama, dengan boatman yang sama juga :).
Kami setting gear di darat, kemudian dibawa ke perahu, perahu hanya mengantar kita ke dive spot dan kembali ke darat lagi setelah diving. One spot, kemudian kembali lagi ke darat, kemudian geser ke spot lain dst. Ini adalah salah satu penyebab dive di Pemuteran tidak bisa 'murah' seperti Menjangan.


Dive 4, Pemuteran, Candi Heboh
Kami hinggap di Buoy dan turun ke 30m, kami bagi 2 group dengan selisih 15 menit agar tidak terlalu kacau nanti di dalam air.
Descending cepat menyusuri buoy, saya sangat kaget menemukan beberapa arca yang tergeletak di pasir... menyedihkan, ternyata candi buatan ini sudah rusak, entah karena arus, entah karena orang2 jahil...

Candi Heboh... beberapa bagian runtuh
Pak Santoso di Candi Heboh




















Arca yang runtuh, mungkin terkena arus ???
Dinding depan yang runtuh...






















Me at Candi Heboh Pemuteran











Dan ternyata di atas Candi Heboh ini ada semacam candi kedua di kedalaman 17m.
Di penyelaman pertama saya 6 bulan yang lalu saya juga tidak menemukan candi kedua ini.
Group pertama tidak menemukan candi ini karena mereka menelusuri dinding ke arah barat, jika anda langsung naik di atas candi heboh anda akan menemukan candi kedua ini, yang hanya berupa beberapa arca yang diletakkan di atas pasir.
Berikut adalah foto candi kedua.

Candi heboh 'kedua' di Pemuteran, kedalaman sekitar 17m

Me !!













Pak Andi...


























Sempat ada atraksi minum teh kotak dari Pak Santoso... ini nih buktinya hahahaha...
kita juga menemukan sea horse (yang juga saya jumpai di penyelaman pertama) yang bentuknya seperti cacing. Thanks to Pak Satriyo yang sudah memfoto Sea Horse ini buat saya upload :).

Pak Santoso Minum Teh Kotak....
Beautifull anemone at Pemuteran


Pak Santoso bersama Giant Barrel Coral
Sea Horse di Pemuteran






Sebenarnya saya memang berusaha mencari si Sea Horse ini, namun udara sudah tinggal 40bar, kami harus naik untuk safety stop dan ascend ke permukaan.




Dive 5, Pemuteran, Close Encounter

Safety stop selama 1 jam, makan siang dan langsung kami rundingan dengan DM pak Putu Sulandre untuk menentukan lokasi dive terakhir kami.
Close Encounter kami pilih dari rekomendasi beliau.
Ternyata site ini sungguh tidak mengecewakan dan bisa menjadi klimaks yang baik untuk dive trip kali ini.
Close Encounter cukup kaya dengan objek makro, nuddy, goby, dan mahluk2 pasir lainnya. Koral di lokasi ini juga masih terjaga baik sehingga menyuguhkan pemandangan yang menakjubkan. Ikan2 kecil banyak bisa dijumpai di sekitar karang2 disini. Schooling fishes...
Saya merasa lokasi ini layak untuk dikunjungi jika anda dive di Pemuteran.


Scorpion fish, besar banget....


Small Lion fish, menari di atas table coral...




























The beauty of Lion Fish....

Schooling fishes....
My Favorite... do you see Nudy or Jaw fish ? :)

Goat fish, being cleaned...














































Juvenile of Angle Fish ?




















The Goby... guarding the entrance of his den
Dancing coral fishes...

























Pak Toni, masukin clown fish ke masker... :)


Kami mengakhiri trip ini dengan sangat puas...
banyak hal baru yang kami dapatkan di dalam trip ini, salah satunya, kebersamaan yang menyenangkan, membuat trip selanjutnya semakin dirindukan :).


Other report of Menjangan Trip :
- 25-26 Feb 2012 with P Daniel & P Jansen
- 11-12 Feb 2012 with pt. Hess