Search This Blog

Thursday, October 14, 2010

Diving Raja Ampat #4, Dive Point #2

These are the rest of the dive points :


* Sardines

Sardines sesuai namanya adalah tempat schooling fishes dan otomatis wide angle photography. Walaupun demikian kita tidak akan menemukan ikan sardine, Buku Dive Raja Ampat menuliskan bahwa Max Ammer merasa melihat schooling ikan sardine (herring /jack).
Ini adalah salah satu lokasi yang highly recommended di buku Dive Raja Ampat. Kebetulan saya tidak merasa melihat terlalu banyak ikan schooling. Mungkin saja karena di lokasi lain pun hampir selalu ada schooling fishes. Memory saya untuk lokasi ini juga kurang kuat, karena kami hanya membawa kamera kecil (Canon G10, and other pocket camera). Lokasi wide angle hanya bisa dinikmati saat diving namun keindahannya sulit diabadikan.
Visibility tidak terlalu bagus, arus kencang sekitar 1 - 1.5 knot konstant demikian selama dive.
Saya ingat bahwa Jun keluar dulu bersama dengan Yefta, dan kemudian Thea 'hilang' entah kemana.
Saya menunggu mungkin 15 - 25 menit sebelum melihat ada buble yang mendekat, eh ternyata si Thea sibuk memfoto apa saja yang ditemuinya.... dasar sableng, segitu lama gak ada buddy juga nyantai saja....
Karena menunggu lama dan tidak melakukan apapun, jadinya oksigen sangat irit, walaupun stay di 15 - 20 meter lama.
Boat crew harus memukul-mukul besi untuk tanda kami naik, Yefta sempat turun lagi untuk meminta kami naik hahaha... gak kerasa dive kali ini 75 menit lamanya... oksigen masih 40an.... what a dive....
I learnt new thing in each dive.... walaupun kelihatanya dive-dive tersebut sama-sama saja....

Sardines yang terletak antara Koh Island dan Mioskon, adalah sebuah boomies (reef tanpa pulau yang menyembul di permukaan).
Di Sardines kami menjumpai schooling jack fish, trevally, fusiliers (endemic di R4, baik yang sirip kuning maupun biru), beberapa penyu, dan ikan-ikan berukuran sedang lainnya.
Yang menarik ada ikan sedot yang biasa nempel di ikan hiu mengikuti kita hehehe... mungkin kalau bisa ngomong dia sedang berusaha menawarkan jasa cleaning service nya kali ya... sayang gak sempat terfoto...
Schooling Trevally
Nice anemone & anemone fishes...

















* Wai Island

Pulau Wai adalah salah satu pulau yang populer untuk Diving di Raja Ampat. Terletak diantara Pulau Batanta dan Mansuar, pulau Wai adalah pulau pertama yang disinggahi (dan ditinggali) oleh Max Ammer, seorang warga Belanda yang sekarang sudah menikah dengan wanita Indonesia dan memiliki 2 buah resort di pulau Kri (Kri-Eco dan Sorido Resort).
Max Ammer dipandang sebagai pelopor diving di Raja Ampat, karena ialah yang membuka resort Diving pertama di wilayah ini.
Kri-Eco Resort on the north side
of Kri Island
Max's first lodge @ Wai Island











Waii Island

Pulau Wai adalah sebuah pulau kecil memanjang dari barat ke timur dan dikelilingi pasir putih dan pantai yang landai. Sudah ada sumur mata air tawar yang dibuat oleh Max Ammer, namun pulau ini hanya ditinggali oleh 1 keluarga saja, total sekitar 10 orang. Keluarga  generasi kedua, Max datang ketika masih dihuni oleh generasi pertama.





Kami datang, meninjau arus sebentar, kemudian memutuskan untuk bergeser ke ujung timur sebagai start point kami. Masuk ke 25 m, kemudian drift ke arah barat. Dalam waktu 10 menit, kami menemukan aeroplane wreck pertama. Konon ada 3 wreck disekeliling pulau Wai. Kami hanya mengunjungi salah satunya saja yakni aeroplane wreck dari US Army Force P-47D Thunderbolt Razorback.
Semoga foto dibawah ini bisa membantu anda membayangkan posisi baling-baling, machine gun (3 buah di masih-masing sayap), dan bagian cockpit (sudah terbuka dan hancur).

P 47D Thunderbolt Razorback
Image from Wikipedia.
P 47D Thunderbolt Razorback Wreck @ Wai Island.
















Machine Gun & Landing Pole
Propeller, still intact.
Baling-baling, Machine gun masih dapat dilihat dengan jelas dan masih dalam kondisi yang baik.
Baling-baling ada di kedalaman 25m, ekor pesawat di kedalaman 35m.





Segera kami mengelilingi wreck, ambil foto dst. Mengingat wreck ada di kedalaman 30m an, kami harus melakukan semuanya dengan cepat. Arus masih mild saja, sekitar 1 knot dan wreck bisa digunakan untuk berlindung dari arus, membuat penyelaman ini sangat berkesan.
Beberapa foto 'narsis' yang sempat kami ambil.... :D.
Thea & P 47D Thunderbolt @ Wai
Drifting @ Wai island
Model Iklan untuk Raja Ampat
Dive Resort hehehe....













Me and P 47D Thunderbolt
Me and Jun @ P 47D Thunderbolt











Main attraction di Wai memang wreck P 47D ini, coral-coralnya sendiri kalau menurut saya sudah agak hancur walaupun tidak menjadi 'rumble' dan tidak separah mansuar, namun kita bisa menjumpai bekas tombak, kail nelayan, dan juga populasi ikan yang tidak sebanyak dive spot lain di R4. Namun R4 tetap saja R4, sejelek-jeleknya lokasi masih lebih kaya dari Menjangan, pemuteran, Nusa Penida dll...

Setelah dive, kami mengunjungi lodge bekas kepunyaan Max Ammer....
Disitu baru kita bisa merasakan kenapa Max memilih Wai sebagai pulau pertama untuk ditinggali dan diselami.... Semoga anda bisa merasakannya juga, silahkan check foto-foto dibawah ini...

Max's first lodge, now modernized
with parabola TV Channel on top...
Wai from Max's perspective...
Wai Inland, path to
the fresh water well




The fresh water well









Me, Thea and Jun @ Wai Island










@ Wai Island
Wai Island, from another angle...














* Friambonda (Friwinbonda)

Pulau kecil di utara Mike's point / pulau Kri. Kami cukup terpesona dengan keaneka ragaman dan keindahan coral dan ikan-ikannya. Selain ikan-ikan berukuran sedang, schooling, lokasi ini juga cukup baik untuk makro, kami menemukan nudi branch putih dan beberapa ulat laut yang indah. Beberapa spot anemone yang kaya dengan anemone fish n shrimp. 
Pulau ini sama seperti Mike's point, tidak memiliki pantai, sea bed nya miring 30derajat dengan variasi antara pasir dan coral. coral berkelompok-kelompok menyajikan pemandangan yang indah sekali. 
Gugusan coral masih bisa ditemui hingga kedalaman 30m.
Melihat keindahan makro Friambonda waktu siang, kami sepakat ingin mencoba nite dive disini. Namun kami kurang beruntung dan tidak menemukan sesuatu yang spesial kecuali tripang tripang besar yang bertebaran di mana-mana.
Nite dive di Friambonda merupakan satu-satunya dive dimana P Agus ikut serta dengan kameranya, dan saya ter-ngiri-ngiri dengan flash light / torch P Agus yang demikian terang benderangnya, sekali dinyalakan, kita bisa langsung mengamati daerah dengan diameter 3m.
Senter yang lain harus berkutat di diameter 50cm - 1m an, yang ini search area bisa 2 - 3 m. Ya mending saya matikan center saya dan ngikut di dekat P Agus hehehehe....
Dibeli di Hongkong harga 2.3j an katanya... oh ya pantess.... senter saya cuman 350 rebu hahahaha....


White Nuddie Branch
White Nuddie Branch @ nite dive
Koloni ulat laut di Friambonda





Ulat kuning














Ulat Kuning dan Merah







Nuddie...
Transparent Anemone Shrimp
@ Friambonda



Crown of Thorn (COT)
Si pemakan coral



* Saonek Kecil / Saonek Monde

Ini adalah pulau yang berada tepat di depan dermaga Waisai di pulau Waigeo.
Arus sangat kencang jika kita tidak menempel ke reef karena ada sungai di sebelah dermaga Waisai
Coral di lokasi ini sebenarnya sangat jelek jika dibandingkan dengan standard R4. Namun lokasi ini menawarkan satu spesies yang menarik : Mandarin Fish.

Sandy mendapatkan nite dive pertamanya di lokasi ini. (Sorry San, gua main ajak aja... hahaha... tapi senang khan sekarang udah bisa nite dive... hiehiehiehie...)
Nite dive kedua 2 hari kemudian kami benar-benar mencari dan menemukan mandarin fish.
So lumayan juga meskipun saya tidak akan rekomendasikan lokasi ini kecuali anda memang ngebet liat Mandarin fish.
Nice Worm
Nice Red thing... I don't know what it is...

Pretty Flat Worm









Some kind of worm...











Mandarin Fish @ Saonek Monde
@ the rubble
Star Fish nice colour











Sleeping Stone Fish...
Kita menemukan Juvenile Stone
Fish dekat mandarin, anaknya kali...













* Cross Over

Terletak tepat di utara Kri-Eco Resort... sialan nih Max Ammer, milih tempat yang begitu dekat dengan lokasi dive kelas dunia...
Cross Over hanya sebuah boom (reef di bawah air tanpa kelihatan pulaunya) dengan kedalaman 15 - 30 m.
Ini adalah lokasi yang bagus untuk wide angle photography.
Selalu ada arus di permukaan, karena berada di selat dampier dan tidak ada pulau yang memecah arus.
Diver harus segera descent agar tidak tertarik arus menjauh dari boom.
Kami menemukan Bump Head, Tengiri, Unicorn fish, Penyu, ikan2 besar dan sedang lainnya.
Saya saat kami turun tidak banyak ikan yang schooling, hanya beberapa gerombol saja tidak sampai ratusan...



* Chicken Reef

Lokasinya berdekatan dengan Sardines dan juga satu lokasi dive yang (seharusnya) asyik : Blue Magic.
Semuanya terletak antara Koh dan Mioskon. Kami tidak tau kenapa diberi nama Chicken. Yang jelas tidak mungkin ada ayam di bawah laut...
Ketiga lokasi ini karakternya mirip, semuanya boom, dan arusnya kencang.
Chicken reef memiliki reef top di kedalaman 5m, cocok untuk lokasi safety stop.
Arus sempat kencang selama 5 - 10 menit (2 knot seperti Nusa Penida) enak bisa ngerasain jadi superman..., tapi kemudian mati. Walaupun kadang ada arus yang kencang, saya menjumpai banyak sea fan yang cukup besar, juga nuddi branch dan anemon fishes. So, seharusnya arus kencang tidak akan terlalu lama sebab se fan, nuddie dan anemon tidak akan dijumpai di lokasi dengan arus yang sangat kencang dan lama.
Coralnya kaya dan banyak ikan-ikan berukuran sedang, lokasi yang bagus untuk memancing ikan.
Pancing P Agus sempat termakan ikan tengiri sebelum senar bajanya putus dan ikan itu batal jadi menu makan malam kita.



* Koh Island

Pulau Koh terletak tepat di depan Sorido Bay Resort (Ujung timur Pulau Kri). Pulau kecil yang cukup indah dan recommended untuk dicoba. Lokasinya yang sangat dekat dengan Cape Kri menyebabkan spesies hewan dan coralnya memiliki kemiripan.
Disini lah pertama kalinya saya melihat Wobegong (Hiu Karpet ?). Bukan hanya itu, hanya sekali itu saja saya melihat wobegong berenang, karena lebih sering kita menemukan wobegong sedang tidur dibawah karang.
(Info yang saya dapat wobegong termasuk hewan malam, baru keluar mencari makan malam hari dan tidur di siang hari).
Penyu, gorgonians, nuddies (matting) kami temukan disini.

Wobegong, si Hiu Karpet
@ Koh Island
Me and Wobegong....











Lokasi ini juga sangat baik untuk Surface interval sambil makan siang. Selat antara Koh dan Kri sangat dangkal, bisa dilewati dengan berjalan kaki saja. Tinggi air laut hanya sepinggang saya saja. Indah sekali karena air terlihat jernih...
Di sisi barat pulau Koh yang berhadapan dengan Sorido ada satu lokasi yang memang dikhususkan untuk surface interval. Yefta dan Clif sempat menata batu dan menanam beberapa tanaman hias disana hahahaha...
Lokasi ini juga bagus untuk berfoto-foto.


* Mioskon

Adalah pulau yang hanya berjarak 15 menit dari Waisai / Waiwo dengan speedboat. Terletak di sebelah timur dari Koh Island. Kami 2 kali dive disini, visibility kurang bagus karena banyak sandy partikel.
pertama kali kami menyelam bersama 2 NZ girls (check disini untuk melihat foto mereka).

Selain menawarkan ikan-ikan yang 'normal' dijumpai di Raja Ampat, ikon terpenting di Mioskon adalah sebuah kerang raksasa (Giant Clam Shell). Bagian yang muncul dan terbuka seperti mulut saja panjangnya hampir 2 meter. Berikut foto-fotonya :

Giant Clam Shell @ Mioskon
Dengan saya di atasnya.... silahkan
dibayangkan besarnya si Giant Clam Shell





















Kami juga menemukan pigmy sea horse (gagal difoto karena setelan makro kamera saya bermasalah) beberapa nudie, flatworms, wobegong, unicorn fish dan coral fish lainnya.


Dive point lain yang recommended dicoba di Dampier Strait namun belum sempat didatangi adalah :
* Manta Sandy, Manta Ridge, semuanya terletak di lokasi yang berdekatan. Lokasi untuk melihat Manta. Kami sempat mampir di Manta Sandy, namun setelah survey sebentar, Yefta mengatakan tidak melihat Manta sehingga kami pindah ke Cape Mansuar. Kesempatan melihat manta seharusnya lebih besar di Manta Ridge, namun arus disana cenderung keras.
Satu daya tarik disini adalah Pulau Arborek, pulau 'wisata' dimana turis bisa melihat kampung asli papua, orang2 memakai koteka dll. Tapi saya tidak terlalu tertarik, karena orang2 berkoteka ini sudah tau 'duit', tiap kali jepret minta 50.000 per kepala. jadi kalau ada 4 orang yang kita foto, mereka minta 200.000.
Ah enggak ah.... ngeliat koteka di museum aja... atau beli koteka di sorong juga ada hahahaha....

* Five Rocks. Banyak disebutkan dan dari teman ada rekomendasi untuk Nite Dive disini, namun tidak sempat ditengok karena kurang direkomendasikan oleh P Agus, pemilik dive resort yang kami tinggali.

* Maya's Dream. Yang kemudian menjadi Rizal's Nightmare (karena saya kehilangan D60 Nikon saya disini..., kecemplung air laut...) Pantai yang indah untuk surface interfal, kami tidak berhasil masuk disini karena arus kencang sekali dan Yefta juga tidak dalam kondisi fit.


catatan untuk pelajaran :
Yang membuat DSLR kesayangan saya nyemplung sebenarnya kesalahan saya sendiri, saya lompat dari kapal dalam kondisi kapal masih bergerak pelan (belum benar-benar merapat) sambil membawa kamera darat. Ini dlakukan supaya buru2 bisa ambil foto pantai yang menawan...
Seharusnya saya tunggu kapal benar-benar berhenti baru turun...
Karena turun dan kapal masih bergerak, ketika mendarat kita cenderung terdorong ke depan (mirip kalau turun dari bis waktu bis masih bergerak). Kaki kiri sudah mendarat di pasir, kaki kanan masih kecantol di atas, gak steady, akibatnya jatuh dan kamera sempat kecelup sebentar.

So cara yang benar seharusnya biarkan perahu berhenti dengan benar, turun dulu, lensa jangan dibawa, setelah yakin gak ada masalah dengan pijakan pasir, oh ya jangan lupa pakai booties, biar lebih steady jalannya. Baru ambil kamera dari perahu dan mulai jalan dengan hati2.
Kamera ditaruh di tangan yang lemah, kalau jatuh, secara refleks kita pakai tangan yang kuat buat pegangan atau menahan ke pasir.

Kamera yang kecelup air asin, hampir bisa dikatakan gak ada obatnya...
kalau mau, segera setelah kecelup air asin, buka semua peralatan (kalau kita bawa peralatan) dan bersihkan dengan air tawar. Saya belum yakin benar, tapi mas tukang servis kamera DSLR bilang : "Masukin aja kamera nya ke air tawar !". Aduh... gilee...
Tapi itu kelihatannya cara yang betul supaya gak sampe berkarat.
Air tawar bisa menguap, tapi air laut membuat karat.
Air tawar setelah kering tidak membuat kamera tidak bisa bekerja, paling harus membongkar dan membersihkan semua bagian kamera, tapi tidak sampai ada karat.


Kalaupun gak tega nyemplungin kamera ke dalam air tawar, kita tinggal pasrah menunggu 'keputusan' dari mas tukang servis kamera, bagian mana yang perlu di replace, mana yang masih bisa dipakai.
Kalaupun bisa di replace dan bekerja, masih penuh resiko, karena karat bisa 'beranak pinak', dari satu spot yang sebelumnya gak masalah, dalam beberapa waktu bisa membuat masalah.
Jadi kamera yang sudah kena air asin, bisa dikatakan ya tamat riwayatnya....

Lensa, kena air asin, bisa dikatakan pasti almarhum, gak seperti kamera yang masih ada kemungkinan kecil dan resiko... fungsi autofokus, semua rotating gear yang menggerakkan lensa berkarat, sudah tak bernilai lah itu lensa....




Beberapa dive point yang kami sempat kunjungi dan kurang baik :
* Cape Mansuar. Di ujung barat Mansuar. Coral sudah sangat rusak. Disini kami sempat turun, melihat blennies, bat fishes, nuddies dll tapi overall tidak banyak yang menarik untuk dilihat.

* Kuburan Reef di sebelah barat Kri-Eco resort, juga tidak terlalu bagus, cenderung kotor, banyak rubble dan bekas-bekas pemancingan / spear fishing.





********

Diving Raja Ampat #3, Dive Point #1

Trip Date : 11 - 20 Sept 2010.
(Note : check out other story about Diving Raja Ampat :

Berikut adalah peta lokasi dive point supaya anda lebih mudah membayangkan nama-nama dive spot yang akan ditulis dalam blog ini...
Peta lokasi Dive Spot di Selat Dampier Raja Ampat


Dan berikut adalah ulasan tentang beberapa dive point yang saya datangi. Beberapa diantaranya cukup terkenal dan banyak direkomendasikan di buku, website atau dari bincang-bincang sesama diver :


* Mike's Point (Kerupiar Island)

Dive point yang ditemukan oleh Max Ammer, dan dinamai sesuai dengan nama anaknya (Mike).
Mike's Point terletak di sebelah utara pulau Kri/Mansuar. Pulau ini ukurannya kecil namun sangat unik.
Di darat terdapat sarang burung elang yang menjadikan atraksi tersendiri ketika si elang mengasuh anaknya, melayang di atas air, menukik kebawah untuk menangkap ikan dan beberapa saat kemudian kembali mengontrol sarangnya.
Sangat menyenangkan untuk dijadikan tempat menghabiskan waktu surface interval anda.

Kalau dilihat sepintas, pulau ini terlihat seperti satu pulau kecil biasa, namun jika kita coba berkeliling, ternyata pulau ini seperti teriris menjadi 2 buah pulau dengan selat sempit (2 - 4 m) dimana kedalaman air laut di selat tersebut hanya 3 - 5 m saja.
Bagian bawah pulau terdapat banyak sekali ceruk / cave (saya sempat membayangkan gua yang agak dalam, ternyata ceruk ceruk tersebut hanya masuk ke dalam pulau sejauh 3 - 10 m saja dan juga ukurannya cukup besar, tidak sempit seperti sebuah gua).

Eagle flew over Mike's Point / Kerupiar Island 

Mike's Point (Kerupiar Island), see the gap between
the big and smaller island ?
Other side of Kerupiar Island



Mike's Point North facing South
Left : Koh Island, Right : Kri Island
Eagle on top of Mike's Point Island
Coba bikin foto Silhuette...













Ceruk atau gua ini bisa dijumpai di kedalaman 20-25m dan sangat cocok bagi anda yang gemar membuat foto silhouette, jadi jangan lupa bawa torch / senter anda untuk membuat foto-foto silhouette yang breath taking :D. Disekeliling pulau dan di dalam ceruk banyak terdapat gorgonian yang berwarna-warni dan indah. Pastikan udara cukup hemat supaya bisa berlama-lama mengunjungi ceruk-ceruk disini. Buoyancy sangat penting karena kepakan fin anda dapat merusak gorgonian dan menggaruk pasir yang memperburuk visibility.

Macro objects @ Mike's Point
Schooling Fuseliers @ Mike's Point











Healthy Coral Forest
@ Mike's Point
Penyu @ Mike's Point















Di Mike's Point (Kerupiar Island) ini kita juga dapat menemukan schooling fish, fusiliers, barracuda, penyu, coral fishes, nuddies, dll.
Namun... masih ada satu alasan yang menurut saya membuat tempat ini sangat recomended dan worth visiting, yaitu selat dangkal dan sempit yang membagi pulau Kerupiar ini. Kedalaman selat yang hanya 3 - 5 m memungkinkan sinar matahari masuk dan menjadikan tempat ini sangat ideal untuk mengambil foto. Lorong-lorong di sini menyimpan banyak ikan-ikan kecil yang tidak terlalu terganggu dengan kehadiran anda. Berikut beberapa foto yang sempat diambil oleh buddy sekaligus instructor saya, Thea.
Me @ Mike's Point, pencahayaan sangat baik.
Sangat cocok untuk ambil foto.
Mike's Point.





















Schooling Juvenile fishes
dalam 'lorong' di Mike's point
Selat sempit yang membagi
pulau Mike's Point.
Sekitar 2 - 4 m saja lebarnya.
Bat Fish dalam lorong di Mike's Point
Banyak Tubastrea Merah yang indah







* Cape Kri

Tanjung Kri, terletak di ujung pulau Kri, tepat di depan Sorido Resort (resot high end milik Max Ammer di pulau Kri). Dive point nya sendiri berada di sisi selatan pulau Kri, bersebelahan dengan Sorido Resort (Sorido Resort menghadap ke timur).
Dive center milik Max Ammer bernama Papua Diving, sangat terkenal diantara para resort marketer.
Dive pointnya sendiri, menurut saya tidak terlalu isitimewa, kecuali memang variasi flora dan fauna yang demikian beragam (khas Raja Ampat btw) bisa ditemukan di dive point ini. Worth visiting selain tempatnya yang mudah dan tidak ada kesulitan teknis untuk dive di tempat ini, Cape Kri cukup bisa 'merangkum' (sums up) diving selat dampier.

Jika anda search di internet anda akan menemukan banyak rekomendasi yang melukiskan keragaman ikan di cape kri. Salah satu yang paling banyak dikutip adalah yang ini :


"On my last trip with Papua Diving (former Irian Diving), 
I recorded 283 fish species during a single dive near the Kri Island resorts. 
This is the most fishes ever seen on a single dive over a career spanning almost 30 years."


Dr.Gerald R. Allen
Western Australian Museum
Pert, Australia
Author of 25+ marine life books




* The Passage

Lokasi dive point ini ada di selat sempit antar P Waigeo dan P Gam. Tempat yang jarang didatangi oleh land based dive resort karena jaraknya yang cukup jauh dari selat dampier (1 jam lebih dengan speed boat dari Waisai).
Komentar Burt Jones di buku Dive Indonesia's Raja Ampat tentang The Passage adalah 'One of Raja Ampat's most celebrated dives...'.
Dalam buku ini juga, anda bisa menemukan komentar dari Sir Alfred Russel Wallace (inspirator Theory evolusi Charles Darwin) yang melewati selat ini dalam ekspedisinya.
Setelah berjuang melawan badai, Wallace menemukan sebuah lubang untuk berlindung. Kapal harus berhati-hati supaya tidak karam karena selat yang sempit. Dan ketika memasuki selat Kabui, ia mengira sedang menemukan sebuah danau / atol.
Wallace sangat terpesona akan keindahan dan keunikan lokasi ini.
Rekomendasi kedua orang ini ternyata memang tidak main-main hehehe...

Pelangi di Raja Ampat
on the way to 'The Passage'
Pulau-pulau kecil sepanjang perjalanan..










Sebenarnya, kami diberi 'hadiah' dari P Agus (Owner Raja Ampat Dive Resort), ditengah-tengah kesulitan mencari solar. Sebab lokasi ini memang cukup jauh (dan cuman bisa 1 kali dive karena hari itu juga jam 12 kita musti mengejar ferry untuk kembali ke Sorong).
Thank you Pak Agus, betul-betul dive yang worth it... semuanya ok...

The Passage....
Pintu Masuk 'The Passage'
lihatlah buih di permukaan... hehehehe...










Memasuki The Passage saja sudah merupakan pengalaman tersendiri, sepanjang jalan kita disuguhi hamparan pulau pulau kecil yang khas Papua.
Profile pulau yang tanpa pantai ini, dari yang saya baca, timbul dari pergeseran lempeng / retakan bumi sebelum jaman es, kemudian terendam air setelah es mencair. Jadilah pulau-pulau yang seperti dipotong (tanpa pantai). Seiring dengan perjalanan waktu bagian yang terendam air laut menjadi tergerus dan menimbulkan cekungan/gua/ceruk di bawah air.

Sekitar 30 menit menyusuri Teluk Kabui ke arah Utara, laut mulai menyempit, kita bisa melihat sebuah 'sungai' yang dipenuhi pepohonan di kiri dan kanannya. Serasa berada di pedalaman Kalimantan hahaha... hanya saja airnya air laut, bukan air tawar...
Saya sudah bisa menebak bahwa arus di sepanjang selat ini pasti sangat kencang, selain karena memang lebar selat yang hanya sekitar 20 - 40 m (bervariasi sepanjang beberapa km), juga karena selat ini menghubungkan teluk kabul dengan samudera lepas. Foto di atas air, ketika akan memasuki selat, menunjukkan riak air di permukaan yang menunjukkan gerakan arus di dalam yang pasti sangat kencang.
Saya sempat bertanya dalam hati, bagaimana cara descent nya ya ?? ada info juga visibility yang akan rendah karena kedalaman selat hanya 15 - 20 m saja dan berpasir... aduh... seru sekaligus deg-degan...

Ternyata ada sebuah teluk kecil di sisi Barat (sisi P. Gam) yang terlindung dari arus kencang. Cocok untuk start point. Kami dive dengan mengikuti arus ke arah selatan.
Selama berada di atas permukaan air, saya merasa seperti berada di danau / sungai air tawar, karena sekeliling kami penuh dengan pohon, suara burung dan hewan-hewan hutan lainnya, tidak seperti berada di laut / pantai. Sinar matahari juga sulit masuk ke dalam. Air kelihatan berwarna hijau karena refleksi dedaunan disekitar kita, serasa tidak diving di laut hehehehe....
Kesannya adalah diving di tengah-tengah hutan belantara !

The Passage starting point
Descent @ The Passage










The Passage sendiri bisa saya kategorikan sebagai lokasi yang sangat komplit ! Macro photography, drift, dan caving dalam satu lokasi.
Di bagian tepi seperti ketika kami descent, ada bebatuan yang melindungi kami dari main current. Di lokasi yang terlindung dan tidak terlalu kencang arusnya ini kami banyak menemukan obyek foto macro. Kami bertemu nuddie, flatworm, ular, berbagai spesies coral dan juga sebuah Porites yang besar dan bulat, diameter sekitar 2m an dan relatif masih bagus, tidak banyak cacat.
Ada satu dive point dekat The passage yang khusus menyajikan nudie branch, namanya Nudibranch Rock. Bersama dengan The Passage, kedua dive point ini yang menjadi sasaran jika diver berkunjung ke wilayah ini.
Nuddie @ The Passage
Flat Worms @ The Passage










Nuddie @ The Passage
area tanpa arus, kaya dengan Macro
creature.















Thea langsung mengingatkan saya dengan menulis di udara, eh di air... : J A N G A N   L A M A.... artinya jangan terlalu lama bermain di obyek makro, the real excitement is yet to come !
Sekitar 30 menit menelusuri tepi sungai eh tepi pulau, kita mulai memasuki daerah yang tak terlindung dari arus utama, arus terasa kencang sekali, benar benar serasa berada di tengah sungai.
Harus pandai melipir sepanjang tepian agar tidak terseret ke tengah dan jeli melihat spot yang terlindung dari arus utama. Tidak semudah yang dibayangkan... karena spot2 yang terlindungi ini mengalami semacam Eddy Current (loop current) yang  membuat tetap sulit untuk beristirahat.

Selang 15 menit bermain-main dengan arus, akhirnya kami sampai ke finish point, ada sebuah gua yang berujung ke dalam lagoon yang dikelilingi tebing tinggi dan pepohonan. Lagoon ini bisa dimasuki dari 2 arah, pertama dari pintu lagoon yang dapat terlihat dari luar, bisa dicapai dengan berenang atau diving, dan pintu lainnya adalah sebuah gua lain yang melingkar berujung di lagoon ini. Betul-betul menyenangkan sekaligus mendebarkan. Arus di pintu masuk ke lagoon dan gua ini sangat kencang hingga fin Sandy sempat terlepas hahaha... more on this latter on... :D....

Inilah pertama kalinya saya benar-benar harus 'Gecko Diving', setelah sebelumnya hanya tau dari cerita P. Bambang saja hahahaha....
Peduli amat dengan koral, pokoknya pegang dengan erat dan jangan sampai lepas ! Setelah sekitar 5 menit bertahan di kedalaman 15m, kami memutuskan untuk merangkak naik, karena arus tidak kunjung reda. Di kedalaman 8 meter, arus mulai mereda dan kami mulai mencoba mengatur nafas, mengembalikan keberanian yang sempat hilang hahahaha...
Sebelah kiri ternyata ada gua, yang tidak terlihat karena sibuknya bertahan dari arus.
Yefta mencoba masuk ke gua, melihat bahwa tidak ada arus disitu, saya memutuskan untuk ikut masuk. Untung saya bawa torch (dan seterusnya saya akan selalu bawa torch !!). Kami menelusuri gua ini yang ternyata berujung di lagoon. Semua sangat excited dan senang, kecuali Sandy yang agak kuatir karena finnya sekarang cuman ada satu ! hiehiehiehiehie... seruu...

Lagoon / Gua di The Passage
Thea di 'pintu' Lagoon











Sorry kualitas gambar yang jelek, karena kita diburu-buru harus cepat kembali ke Waisai untuk mengejar ferry, dan juga baru tarik napas karena adrenalin yang naik setelah gecko diving hehehe... mana kondisi kamera yang juga kurang menunjang... habis battery lagi hahaha...

di luar P Agus sudah memanggil manggil hahaha... kok malah beliau yang takut kita ketinggalan ferry ya ?
Segera kita descent lagi untuk bisa keluar dari Lagoon, keluar dari lindungan batu, segera arus The Passage menyapa lagi dan kali ini kita drift mengikuti arus di atas pasir di tengah-tengah channel / selat.
Eh... tiba-tiba Yefta menemukan fin Sandy yang tadi sempat terlepas, sambil drifting, kita berusaha memakaikan fin Sandy kembali... What a trip....
Setelah arus tidak terlalu deras, kita lakukan safety stop, another 'blue water safety stop' actually... hehehehe...
Dan ketika muncul di permukaan, ternyata kita sudah ada di muara teluk Kabui hehehe... cukup jauh juga drift kita...

So The Passage in short, dalam 1 lokasi kita mendapatkan sekaligus : Macro, Drift, dan Caving... betul betul tidak salah kalau lokasi ini menjadi one of the most celebrated dive spot at Raja Ampat !
Sandy, walaupun sempet kehilangan fin dan merasa aneh dengan gecko diving ternyata juga sangat menyukai lokasi ini... ya khan San ? hehehehe... adrenalin pumping.... semoga tambah gemar drift dive....




* Saonek Island / Saonek Jetty (dermaga, muck dive, nite dive).

Simply one of the best muck dive / nite dive I ever had.
Kalau menurut Thea : World class dive site cieee.....
Well, mau tidak mau saya akan setuju, berhubung belum pernah dive di luar negeri dan saya juga kaget dengan binatang-binatang yang mengisi dive site ini... menurut saya sih : memang bagus !!

Saonek sendiri adalah sebuah pulau kecil dekat dengan Waisai (ibukota Waigeo).
Menurut penjelasan penduduk lokal, Saonek adalah bekas ibukota kabupaten karenanya merupakan kota yang (dulu) paling maju di wilayah Raja Ampat.
Sayang kami tidak sempat jalan-jalan disini (walaupun sudah ngebet...) karena jadwal diving yang cukup padat (sebenarnya bukan divingnya, tapi boat yang cuman sebiji yang bikin jadwal jadi padat...).
Konon ada masjid pertama di R4 (banyak orang bugis di Saonek) dan juga kita bisa melihat tower Indosat dibangun di pulau ini.

DM kita, Yefta, sempat menunjukkan seekor walking shark dalam sebuah reef kepada saya, namun sebelum sempat saya panggil Thea untuk foto, si walking shark sudah kabur entah kemana...
well... ini pertama kali saya lihat walking shark. Jika anda penasaran seperti apa sih walking shark, berikut foto yang saya dapatkan di internet :
Walking Shark, benar-benar berjalan dengan
sirip pectoral (dekat insang) dan sirip perutnya.












Berikut adalah ikan-ikan lain yang kami temui di Saonek bridge, diantara ban bekas, roda bekas, drum, karung, kain, botol, Yefta malah menemukan masker yang masih bisa dipakai hehehe.... pemulung elit...
Gurita, didekat kaos bekas
Sea Pen
Goat fish, lagi tidur di dekat botol....













Lion fish sedang tidur....
seonggok Flower Coral / Polyp / Tubastrea
sendirian dan cantik ditengah pasir....







Coral Banded Shrimp, a lot of them
in this area and throughout R4.



Scorpion fish tidur di dekat bulu babi












Crocodile Fish, a close up shoot....
Crocodile Fish tidur di dekat karung goni bekas....















Cardinal Fish, diantara soft coral.
Kerang yang Indah sedang cari makan...












*****************